- Mari Terus Berkarya, Berkreasi dan Berinovasi -
Home » , , , » Materi Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti BAB I - Peranan Agama

Materi Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti BAB I - Peranan Agama



Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar 1.4 Kekerasan masyarakat
B. Peranan Agama
Penanaman Nilai
Hari pertama sekolah, sejak malam Tono telah berangan bahwa esok hari pertama sekolah, tentu segala kebutuhan sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Tono berangkat ke sekolah, berkendaraan angkutan umum dengan riang dan sedikit bercanda dengan beberapa orang kawannya. Tono menikmati perjalanan menuju sekolah yang selama ini diinginkannya. Di tengah perjalanan, Tono melihat seorang pemuda sedang mabuk minuman keras. Tono mengamati dan membicarakan dengan kawan dalam perjalanan. Angkutan umum pun tetap berjalan dengan pelan sambil mencari dan menunggu penumpang. Salah seorang teman Tono, berkata, ”Aduh..…! hari ini hidupnya masih mabuk minuman keras. Mabuk itu kan merusak kesehatan. Mabuk itu kan melanggar hukum. Mabuk itu kan kehidupan tidak beragama”.

Setelah membaca cerita di atas, jawablah soal berikut.
  1. Apakah kamu juga termasuk anak yang sedang bersuka cita karena menjadi siswa SMA/SMK Jelaskan.
  2. Apakah teman Tono yang berkomentar, termasuk teman yang memahami peran agama bagi kehidupan? Jelaskan.
  3. Sebutkan upaya yang kamu lakukan untuk memahami peran agama bagi kehidupan.
Cerita dan jawaban atas pertanyaan pada Penanaman Nilai, menyangkut peran agama dalam kehidupan. Mengatasi masalah-masalah kehidupan manusia, dirumuskan agama sebagai suatu sistem kepercayaan dan praktik yang dapat diaplikasikan. Agama adalah hubungan praktis yang dirasakan dengan apa yang dipercayai sebagai makhluk atau wujud yang lebih tinggi daripada manusia. Kata agama di Indonesia lazim diartikan sebagai kata A dan Gama yang diartikan dengan tidak kacau. Akan tetapi kata Gama dalam bahasa Sanskerta artinya desa. Jadi, agama diartikan dengan tidak kacau kurang tepat jika dilihat dari asal-usul bahasa. Agama adalah sikap atau cara penyesuaian diri terhadap dunia yang mencakup acuan yang menunjukkan lingkungan lebih luas daripada lingkungan dunia fisik yang terikat ruang dan waktu, dalam hal ini yang dimaksud adalah dunia spiritual. Jadi, agama bukanlah sekadar sikap seseorang terhadap dunia fisik (duniawi), tetapi juga termasuk dunia spiritual (kesucian, kemuliaan, cinta kasih, dan lain-lain). 

Agama memiliki fungsi-fungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas. Artinya agama mampu menyatukan perbedaan melalui rasa solidaritas atau penghargaan yang tinggi terhadap agama orang lain. Fungsi-fungsi agama tersebut adalah; Transformatif, artinya agama mampu mengubah kepribadian dan perilaku manusia dari yang buruk menjadi baik. Kreatif, artinya agama mampu mendorong umatnya menjadi produktif baik untuk diri sendiri maupun lingkungannya. Sublimatif, artinya agama mampu menyucikan kehidupan manusia dari tiga akar kejahatan: keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Edukatif, artinya agama mampu mendidik masyarakat memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Penyelamat, artinya agama mampu menyelamatkan manusia dari penderitaan. Kedamaian, artinya agama mampu membuat masyarakat memiliki rasa damai dari kesalahan/dosa yang dibuatnya melalui tuntunannya. Kontrol sosial, artinya agama mampu memelihara nilai-nilai sosial masyarakat melalui norma-norma yang diajarkan agamanya.
Selanjutnya, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
  1. Apakah kalian mengerti peran agama dalam kehidupan?
  2. Apakah kamu mengeti apa itu agama?

Mudah-mudahan agama memiliki peran yang signifikan pada kehidupan manusia. Menurut Encyclopaedia of Buddhism, kata ”agama” berasal dari agam yang artinya ”datang” atau ”tiba”, maksudnya mendekat, menemui, sumber, doktrin dan pengetahuan tradisional, khususnya dipakai untuk menunjuk kepada kitab suci. Dalam Bahasa Sanskerta dan Bahasa Pali, yaitu dari akar kata gacc, yang artinya adalah pergi ke, menuju, atau datang, kepada suatu tujuan, yang dalam hal ini, yaitu untuk menemukan suatu kebenaran. Penjelasan makna kata ini adalah seperti berikut:
  1. Dari kehidupan tanpa arah, tanpa pedoman, datang mencari pegangan hidup yang benar, untuk menuju kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan yang tertinggi;
  2. Dari biasa melakukan perbuatan rendah di masa lalu, beralih menuju hakikat ketuhanan, yaitu melakukan perbuatan benar yang sesuai dengan hakikat ketuhanan tersebut sehingga bisa hidup sejahtera dan bahagia;
  3. Dari kehidupan tanpa mengetahui Hukum Kesunyataan (Hukum Kebenaran Mutlak), dari kegelapan batin, berusaha menemukan sampai mendapat atau sampai mengetahui dan mengerti suatu hukum kebenaran yang belum diketahui, yaitu hukum kesunyataan yang diajarkan oleh Buddha.

Ada pendapat yang menjelaskan bahwa kata agama mempunyai arti tidak kacau. Bila memang dapat diartikan demikian, kata agama ini bisa mempunyai makna menjalankan suatu peraturan kemoralan untuk menghindari kekacauan dalam hidup ini yang tujuannya adalah guna mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Namun demikian mengartikan kata ”agama” dengan cara demikian masih menjadi perdebatan, karena secara etimologis tidak ditemukan suatu kata ”gama” yang berarti ”kacau” meskipun disepakati bahwa ”a” artinya ”tidak” dalam bahasa Sanskerta. Timbulnya agama di dunia ini adalah untuk menghindari terjadinya kekacauan, pandangan hidup yang salah, dan sebagainya, yang terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda; guna mendapatkan suatu kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan tertinggi. Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya. Inilah alasan mengapa orang mau mencari jalan yang benar yang dapat membawa mereka kepada suatu tujuan, yaitu suatu kebahagiaan mutlak terbebas dari semua bentuk penderitaan. Semua agama di dunia ini muncul karena adanya alasan ini.

Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar 1.4 Kekerasan masyarakat
Gambar 1.4 menunjukkan bahwa kehidupan manusia yang kacau tidak sesuai dengan norma agama sehingga jauh dari kedamaian dan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kedamaian tersebut semestinya dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia dengan mengaktualisasikan nilai-nilai agama. Buddha Dhamma yang mengajarkan Kebahagiaan Tertinggi (Nibbana) juga disebut sebagai agama. Oleh karena itu, agama Buddha lebih dikenal dengan nama Buddha Dhamma atau Buddha Sasana. Buddha Dhamma atau Buddha Sasana, yaitu ajaran Buddha sebagai pedoman untuk membebaskan diri dari penderitaan.

Sebagai jalan manusia untuk mencapai kebahagiaan duniawi yang sejalan dengan Buddha Dhamma, setelah meninggal dunia terlahir di surga, kemudian mencapai kebahagiaan akhir (Nibbana). Dengan demikian, agama Buddha juga termasuk salah satu agama yang ada di dunia. Dari definisi di atas, agama merupakan ajaran kepercayaan atau keyakinan beserta kebaktian, sebagai jalan manusia untuk mencapai kebahagiaan duniawi, dan agar setelah meninggal dunia terlahir di surga. 

Perubahan kepercayaan animisme dan dinamisme menjadi agama, membuat bermunculan agama-agama yang menawarkan ajaran-ajaran dengan banyak perbedaan meskipun pada intinya mengajarkan keselamatan serta kebahagiaan duniawi dan surgawi. Agama yang dianggap agama tertua dianut manusia berasal dari lembah Hindustan yang pada awalnya disebut dengan Brahmanisme, tetapi kemudian dikenal dengan nama Agama Hindu. Kemudian, muncullah agamaagama lain seperti Yudaisme; Buddhisme; Kristenitas; Islam; Sikhisme; juga kepercayaan- kepercayaan di antaranya: Konfusianisme; Taoisme; Zoroastrianisme; Shintoisme; dan kepercayaan Baha’i. Agama awal yang masuk ke Indonesia adalah Hindu dan Buddha, kemudian Islam, Kristen, yang kemungkinan juga masuk Konfusianisme dan Taoisme di sela-sela masuknya pengaruh agama-agama tersebut. Negara Indonesia adalah negara yang berasaskan Pancasila dan bukan negara agama. 

Berdasarkan sila pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, serta Pasal 29 Ayat 1 dan 2 UUD 1945 yang berbunyi:
  1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Negara mengizinkan dan melindungi penduduk untuk menganut salah satu agama yang diakui di Indonesia. Agama memuat ajaran kebajikan, baik dan salah, moral, etika, norma, tatanan hidup, aturan, latihan bahkan larangan yang semuanya mengarahkan agar manusia berperilaku baik. Ajaran yang terdapat dalam agama tersebut membuat agama memiliki fungsi besar bagi manusia terutama dalam hubungannya dengan Tuhan, serta manusia dan manusia atau masyarakat. Fungsi agama bagi manusia adalah sebagai sumber spiritual, pembimbing rohani manusia, pedoman dan sumber moral, serta sumber informasi masalah metafisika. Selain fungsi tersebut, agama juga memiliki peran dalam kehidupan manusia.

Peran agama bagi kehidupan manusia di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Membawa Perubahan terhadap Pribadi Manusia
Ajaran yang terdapat dalam agama diharapkan dapat membawa perubahan terhadap pribadi manusia, dan menjadi pagar pembatas agar manusia tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Perubahan pribadi manusia ini dimaksudkan ter-jadinya perubahan kebiasaan manusia yang tidak baik menjadi lebih baik. Selain itu, ajaran agama juga diharapkan mampu mendorong manusia melakukan kebajikan, memiliki cinta kasih, sikap rukun, dan tolong-menolong.
2. Memberikan Pendidikan (Edukasi)
Agama mampu memberikan pembinaan, pendidikan, dan pengajaran kepada manusia dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya spiritual maupun rohani. Hal ini dimaksudkan bahwa ajaran agama dijadikan pedoman bagi manusia dalam menghadapi kehidupan dengan bersikap bijaksana. Bidang kehidupan ini tidak hanya dalam kegiatan ritual, tetapi juga bidang kehidupan lainnya seperti pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain sebagainya.
3. Membawa Perbaikan Keadaan Masyarakat
Manusia dihadapkan pada permasalahan sosial yang sangat kompleks. Permasalahan ini mengakibatkan hilangnya rasa kemanusiaan, seperti ketidakpedulian, pelanggaran hukum, serta hilangnya sikap saling menyayangi. Kondisi ini membutuhkan pedoman dari agama untuk menyelesaikan permasalahan sosial dengan menciptakan keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
4. Menciptakan Persatuan dalam Masyarakat

Sumber: parpukari.blogspot.com Gambar 1.5 Keharmonisan tokoh agama
Amati Gambar 1.5. Kemudian, jawablah pertanyaan berikut:
  1. Apa pendapatmu tentang Gambar 1.5?
  2. Apakah hanya tokoh agama yang dapat menciptakan kerukunan?
  3. Apa sajakah peran agama dalam menciptakan kedamaian dan kebahagiaan?
  4. Bagaimana fungsi agama dalam mewujudkan kedamaian dan perdamaian?

Ajaran Buddha dapat lebih diaplikasikan dalam masyarakat Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang dibingkai dengan Bhinneka Tunggal Ika. Kerukunan
hidup umat beragama terbina bila setiap umat beragama mampu:
  1. Tidak memaksakan kehendak atau keyakinan kepada orang lain.
  2. Bekerjasama dan gotong royong untuk mengerjakan sesuatu untuk kepentingan bersama.
  3. Tidak membeda-bedakan antarumat dalam hal agama dan keyakinan yang dianutnya.
  4. Memberi kesempatan sepenuhnya kepada orang lain untuk menjalankan ibadahnya.
  5. Menghormati orang lain yang sedang menjalankan ibadahnya.
  6. Saling menghormati perayaan hari besar agama orang lain.

Agama Buddha lebih berperan aktif karena jelas agama sebagai sumber dan landasan etika, moral dan spiritual, memiliki peran sebagai berikut:
  1. Peran sebagai Komplemen: artinya agama merupakan salah satu unsur pokok dalam kehidupan untuk menetapkan arah, tujuan dan cara-cara menjalani kehidupan.
  2. Peran sebagai Motivator: artinya agama harus mampu memberi dorongan dan menggerakkan aktivitas serta perilaku manusia dalam meraih cita-citanya.
  3. Peran Kreatif: artinya agama harus dapat membuat orang bekerja dengan penuh daya cipta yang bermanfaat.
  4. Peran Integratif: artinya agama harus dapat mempersatukan perbedaan di dunia.
  5. Peran Sublimatif: artinya agama harus dapat membantu seseorang untuk mencapai kesucian lahir dan batin.
Peran agama semestinya bukan hanya menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat duniawi tetapi yang mengarah pada kesucian spiritual. Buddha menjelaskan bahwa terdapat 4 agama palsu sebagai berikut:
  1. Materialisme, yaitu agama yang tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian.
  2. Tidak percaya hukum sebab akibat. Ia berpendapat bahwa berbuat baik tidak ada pahalanya, dan sebaliknya ia mengajarkan etika tidak bermoral.
  3. Keselamatan dapat diperoleh secara ajaib. Misalnya asal percaya dan ikut agama, maka ia akan diselamatkan, tak peduli perbuatannya baik atau buruk.
  4. Mengajarkan bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sudah ditakar dan diatur oleh yang maha kuasa.
Penanaman Nilai
Bacalah pernyataan peristiwa pada Tabel 1.1. Kemudian, tuliskan pendapat dan alasan pendapatmu terhadap pernyataan peristiwa tersebut.

Tabel 1.1

Agama Buddha mengutamakan cinta kasih dalam penyebaran agamanya di dunia. Agama Buddha adalah satu-satunya agama yang tidak pernah perang atas nama agama. Agama Buddha berkembang dengan damai di seluruh dunia tanpa pertumpahan darah. Dengan demikian agama Buddha adalah agama yang konsisten dalam mewujudkan kedamaian di dunia sebagaimana tujuan utama setiap agama.

Sumber : Dok. KemdikbudGambar 1.6 Tujuan Pembabaran Dhamma


Amati Gambar 1.6. Kemudian, jawablah pertanyaan berikut.
  1. Apa pendapatmu tentang Gambar 1.6?
  2. Apakah hanya Siddharta yang menjadi Buddha?
  3. Apa peran Sidharta dalam menciptakan kedamaian dan kebahagiaan?
  4. Bagaimana baik buruk manusia ditentukan?
Konsep agama Buddha, antara lain:
  1. Semua orang dapat menjadi Buddha. Kebuddhaan bukan milik pribadi Siddharta Gotama, tetapi setiap orang dapat menjadi Buddha sama seperti Siddharta Gotama.
  2. Nibbana adalah tujuan utama. Nibbana berarti terbebas dari kondisi tiga akar kejahatan (lobha, dosa, moha). Nibbana tidak hanya dicapai setelah mati, Nibbana dapat dicapai didunia saat ini juga.
  3. Karma berarti perbuatan. Nasib manusia tidak diatur oleh makhluk yang maha kuasa, tetapi nasib manusia bergantung pada Karma yang diperbuatnya.
  4. Baik buruk manusia bukan karena ras, suku, agama, atau jabatan. Ajaran Buddha menolak perbedaan derajat dan martabat manusia berdasarkan kasta, ras, warna kulit, bangsa, maupun agama. Perbedaan di antara semua makhluk terjadi karena karma atau perbuatannya masing-masing.
  5. Anti kekerasan dan mengutamakan Metta. Ajaran Buddha mengajarkan untuk melindungi setiap bentuk kehidupan, menyingkirkan senjata, pantang melakukan berbagai bentuk kekerasan, dan membalas kebencian dengan cinta kasih.

Sumber: http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg
 - Gambar 1.7. Kekerasan pelajar


Amati Gambar 1.7. Kemudian, jawablah pertanyaan berikut.
  1. Apa pendapatmu tentang Gambar 1.7?
  2. Apakah hanya sekarang muncul kekerasan?
  3. Apa peran agama dalam mengatasi kekerasan?
  4. Bagaimana cara mengatasi kekerasan?

0 komentar:

Posting Komentar

Agenda Tahun 2018

1. Tanggal 5 - 6 Januari Temu Pelatih Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI 2018. 2. Tanggal 22 April; Video Converenc Maluku Belajar 3. Tanggal 28 April; Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Bidang TIK - Tana Toraja Sulsel. 4. Tanggal 29 - 30 Juni 2018; Workshop Pengembangan Media Pembelajaran Dhammasekha Berbasis IT - Selat Panjang Kep. Mranti Kep. Riau. 5. Tanggal 25 - 27 Juli; Workshop Multimedia Pembelajaran Provinsi RIau

Translate

Instagram

My Facebook

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.