- Mari Terus Berkarya, Berkreasi dan Berinovasi -
Home » , , , , » Pokok-pokok keyakinan umat Buddha

Pokok-pokok keyakinan umat Buddha


A. Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Rumusan mengenai Realitas tertinggi, kebenaran mutlak, absolut, Nirwana yang disebut Asankhata Dharma, dan diartikan sebagai Sifat Tuhan Yang Maha Esa. Sang Buddha mengajarkan Ketuhanan tanpa menyebut Nama Tuhan, Tuhan yang tanpa batas, tak terjangkau oleh alam pikiran manusia Biasa, Tidak diberikan Nama, Karena Nama itu dengan sendirinya akan memberi pembatas kepada yang tidak terbatas.
 Dalam agama Buddha, Tuhan tidak dipandang sebagai suatu Pribadi. Sang Buddha tidak mengajarkan faham yang menempatkan suatu kekuasaan Adikodrati merencanakan dan menakdirkan hidup semua Makhluk . Jika ada suatu makhluk yang merancang kehidupan seluruh Dunia, kemuliaan dan Kesengsaraan. Tindakan baik, tindakan jahat, dan malapetaka  maka manusia tiada lain adalah alat dari kehendak-Nya dan tentu Makhluk itu yang bertanggung jawab. Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha tidak mengenal Dualisme. Tuhan yang mempunyai Sifat Maha Pengasih (Brahma Vihara) Tidak mungkin juga Pemarah. Buddha terlahir karena kasih kepada sunia, untuk kepentingan, kesejahteraan dan kebahagiaan dari para dewa dan manusia.

Sifat Adikodrati Sang Buddha dapat dilihat dari berbagai mukjizat, apakah itu gejala alam atau kekuatan Supernatural yang ditunjukan sejak saat KelahiranNya. Tathagata jelas bukan apa yang dilihat sebagai Manusia. Sang Buddha bersabda kepada Subhuti, “Jika ada orang mengatakan Tathagata itu datang, atau pergi, duduk atau berbaring, orang tersebut tidak mengerti akan maksud Ajaran-Ku mengapa ? Karena Tathagata tidak datang dari mana-mana oleh sebab itu Ia disebut Thathagata. Barang siapa mengidentifikasi Aku dengan suatu Bentuk yang terlihat, atau mencari-Ku melalui bunyi yang terdengar orang itu sebenarnya berjalan menyimpang dan tidak akan dapat melihat Tathagata yang Sejati. Sang Buddha bersabda kepada Ananda, “Apabila Tathagata menghendaki, Ia dapat Hidup Sepanjang Masa Dunia atau sampai akhir dari masa Dunia yang sedang berlangsung ini.

Dalam ungkapan yang serupa Sang Buddha berkata kepada Anuradha, “Karena seorang Tathagata bahkan meskipun benar-benar hadir, tidaklah dapat dipahami, adalah tidak tepat untuk mengatakan tentang Dia Tathagata, orang yang sepenuhnya mengatasi Dunia, Yang Maha Sempurna, Yang mencapai Kebebasan Mutlak dengan pernyataan ini, bahwa setelah wafat Tathagata itu ada, atau tidak ada, atau ada dan tidak ada.” Di sini kita menyadari bahwa pengungkapan realitas tertinggi, yang Mutlak, mengadapi keterbatasn dalam berbahasa.

Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan atau nama yang berbeda-beda adalah pengakuan akan kebesaran Tuhan. Keyakinan ini membawa konsekuensi kepada kita untuk bersikap saling menghormati dan mencintai semua Makluk hidup. Keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Esa mengatasi dunia, mendorong agar kita mengembangkan pemahaman, hingga mampu membebaskan diri dari semua rintangan duniawi, melalui penembusan Bodhi, untuk sampai kepada-Nya. Kita harus mencintai dan mengembangkan sifat-sifat yang Mulia dari Tuhan seperti Brahma Vihara atau Kediaman Luhur yang bisa diartikan sebagai rumah Tuhan yaitu Cinta Kasih (Metta), Welas Asih (Karuna), Simpati (Mudita) dan keseimbangan batin (Upeka).

B. Keyakinan terhadap Tiratana/Triratna
Kehidupan beagama Buddha sepenuhnya dibangun atas dasar Keyakinan terhadap Tri Ratna :
 1. Keyakinan kepada Buddha
Demikianlah sesungguhnya Sang Bhagawa, Yang Maha Suci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna berkat Kekuatan-Nya sendiri, Sempurna Pengetahuan serta tingkah laku-Nya, Sempurna menempuh Jalan , Pengenal segenap alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru Para Dewa dan Manusia, yang Bangun, Junjungan yang dimuliakan .

Sammasambuddha adalah Buddha yang menurunkan ajaran kepada orang lain, baik Manusia dan para Dewa. Kitab Lalitavistara mengemukakan 54 Buddha dan kitab Mahavastu lebih dari 100 Buddha, Kitab Buddhavamsa mencatat secara kronologis 28 Sammasambuddha yang muncul dalam lima periode siklus masa dunia (Kalpa). Pada masa dunia sekarang terdapat lima Buddha. Buddha yang dikenal secara historis, Buddha Gautama adalah yang keempat, sebelumnya Kakusanda, Konagamana, Kassapa, dan kelak akan datang Buddha berikutnya yang dinamakan Maitreya. Mereka yang menjadi pengikut Buddha memiliki keyakinan karena mendengar sabda dan khotbah-Nya baik langsung ataupun tidak langsung, karena melihat tanda-tanda fisik manusia agung. Mengamati Tingkah laku Buddha Sehari-hari Yang Maha Suci, Maha Tahu, Maha Pengasih. Berbagai kekuatan atau kemampuan yang ditunjukan oleh-Nya. Sekarang ini , kita hanya dapat mendengar tentang Buddha lewat kesaksian orang lain, kita belajar dari Guru, khususnya para bhikkhu. Dari dekat kita dapat mengamati bagaimana mereka yang menjalankan Ajaran Buddha hidupnya tidak tercela dan mencapai kemajuan, sehingga dapat diteladani. Dengan memiliki Keyakinan kepada Buddha, ada yang berhasil mencapai tujuan, ada yang sedang mendekati tujuan, namun tidak sedikit pula yang tidak berubah nasibnya. Keyakinan menjadi kuat lewat pengalaman, setelah kita mendapatkan manfaat dari Ajaran yang diperaktekkan oleh diri sendiri.

2. Keyakinan pada Dharma mengandung arti menjunjung Dharma yang tiada lain dari kebenaran Mutlak.
Sang Buddha Gautama menyatakan, “Dharma yang telah menimbulkan penerangan Sempurna dalam diri-Ku, hidup didalam-Nya, Aku memuja dan menghormati Dharma.”
Brahma Sahampati berkata, “ Mereka, Bhagawa para Buddha di masa yang lalu, hidup di dalam Dharma, memuja dan menghormati-Nya, Mereka yang akan menjadi Buddha di masa yang akan datang, juga hidup di dalam Dharma, memuja dan menghormati-Nya. Begitupula bhagawa, Buddha masa sekarang, hidup di dalam Dharma, memuja dan menghormatinya.

Apakah Tathagata muncul atau tidak, Dharma selalu ada. Kita memang mengenalnya melalui apa yang diajarkan oleh Sang Buddha. “ Dharma telah dibabarkan Sempurna oleh Bhagava, berada sangat dekat, tidak dibatasi oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke arah Pembebasan, dapat diselami oleh orang-orang bijaksana dalam batin masing-masing. Dharma sebagai pelindung tidak dimaksudkan dengan kata-kata yang tertulis dalam Kitab Suci atau konsep dalam pikiran manusia yang masih dicekram Keduniawian, melainkan kesucian dan Nirwana yang dicapai pada akhir jalan.

 3. Keyakinan pada Sangha mengandung arti menjunjung Sangha yang memiliki prilaku benar, menjadi contoh teladan, membimbing, dan menuntun makhluk-makhluk lain.
Sangha sebagai pelindung bukan kumpulan bhikkhu yang belum bebas dari kotoran batin, melainkan orang-orang yang telah mencapai kesucian. Keyakinan kepada Sang Tri Ratna adalah yakin dengan sepenuh hati kepada Sang Tri Ratna sebagai pembawa inspirasi, penuntun hidup bahkan menjadi tujuan Hidup. Diantaranya dalam praktek sehari-hari umat memuja Sang Tri Ratna. Pemujaan demikian dapat dimengerti. Sang Tri Ratna dipandang merupakan manifestasi atau cermin Tuhan Yang Maha Esa dalam dunia ini. Tetapi konsep Tri Ratna tidaklah sama dengan Konsep Tuhan dalam agama lain.

Sang Buddha mengungkapkan Sbb: Para Bhikkhu, ada yang tidak dilahirkan (Ajata), yang tidak menjelma (Abhuta), yang tidak diciptakan (Akata), yang mutlak (Asankhata). Para Bhikkhu , apabila tiada yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan, yang mutlak, maka tidak akan ada kemungkinan untuk bebas dari hal-hal berikut ini, yaitu kelahiran, penjelmaan, penciptaan, pembentukan dari sebab yang lalu. Tetapi Para Bhikkhu, Karena ada yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan., Yang Mutlak maka ada kemungkinan untuk bebas dari hal-hal berikut ini, yaitu kelahiran, penjelmaan, penciptaan, pembentukan dari sebab yang lalu.                

C. Keyakinan terhadap adanya Bodhisattva, Arahat dan Deva
Seorang Buddha adalah mereka yang telah mencapai kesucian, dan ia juga disebut sebagai Arahat. Dalam pengertian sehari-hari, orang yang telah mencapai kesucian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. Sammasambuddha: ia yang telah mencapai kesucian karena perjuangannya sendiri dan mampu mengajarkan Dhamma (Buddha Dhamma) sehingga orang lain mencapai kesucian yang sama. Kelompok pencapaian kesucian inilah, yang biasa hanya disebut sebagai Buddha.

2. Savakabuddha: adalah para murid Sammasambuddha, yang setelah mendengar pelajaran Beliau, mereka juga mencapai kesucian yang sama, dan mereka juga mampu mengajarkan Dhamma. Kelompok pencapaian inilah yang sering hanya disebut sebagai Arahat.

3. Paccekabuddha: adalah mereka yang melaksanakan Dhamma dan mencapai kesucian, namun tidak memiliki kemampuan untuk mengajarkan Dhamma kepada orang lain sehingga mencapai kesucian.

Buddha dengan Arahat, yang sama adalah musnahnya kekotoran batin secara total. Sedangkan perbedaannya banyak sekali, misalnya:

* Paramita yang dihimpun berbeda lamanya.
* Ketika pertama kali Bodhisatta bertekad menjadi Buddha, ia telah memiliki potensi untuk menjadi Arahat.
* Tanda istimewa tubuh fisiknya, untuk Buddha ada 32 tanda manusia agung.
* Buddha sebagai penemu kembali Dhamma, sedangkan Arahat bukan menemukan kembali melainkan merealisasi ke-Arahatan dengan mengikuti ajaran Buddha.
* Buddha pasti memiliki tevijja, sedangkan Arahat belum tentu memilikinya.
* Buddha pasti sebagai manusia, sedangkan Arahat tidak harus manusia, bisa deva, bisa brahma.
* dan masih banyak lagi perbedaannya.
    
Bodhisattva adalah calon Buddha atau seorang yang bercita-cita menjadi Buddha.  Arahat adalah siswa Buddha, karena ketekukan dan keyakinannya melaksankan ajaran  Buddha dalam kehidupan sehari-hari, berlatih dalam sila, samadhi dan panna sehingga dapat melenyapkan semua kekotoran batin. Deva adalah makhluk yang hidup di alam dewa (surga) berkat kekuatan karma baik yang dilakukan pada kehidupan lampau.

D. Keyakinan terhadap Hukum Kesunyataan
1. Hukum empat kesunyataan mulia (Cattari ariya saccani)
2. Hukum Kamma dan Punabbhava
3. Hukum Tilakkhana
4. Hukum Paticcasamuppada

E. Keyakinan terhadap Kitab Suci
Kitab Suci Agama Buddha adala Tipitaka (Pali) atau Tru Pitakka (Sanskrta) yang berarti Tiga Keranjang, teridi dari Abhidhamma Pitaka, Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka.

F. Keyakinan terhadap Nibbana/Nirvana

Semua umat Buddha mempunyai tujuan terakhir yaitu mencapai Nibbana/Nirvana. Setelah mencapai Nibbana, maka kita tidak akan dilahirkan kembali. Namun, apa yang terjadi sesudah mencapai Nibbana? Apakah Nibbana adalah suatu akhir? Apakah kita hidup atau berhenti hidup? Dan bagaimanakah Nibbana itu? Nibbana itu Attakavacare, tak berada dalam lingkup logika. Logika adalah pemikiran duniawi, sedangkan Nibbana adalah kehidupan di atas duniawi. Kita selalu mengatakan bahwa Nibbana bukanlah ini dan bukanlah itu. Nibbana bukanlah sesuatu yang dapat dinamai atau ditandai. Nibbana berada di luar semua itu karena tak berbentuk.

Nibbana merupakan sesuatu yang tak dipahami oleh pemikiran biasa. Usaha menjelaskan Nibbana dalam bahasa keduniawian akan mengalami kegagalan, karena Nibbana tidak bersifat duniawi, malah berlawanan. Mengatakan bahwa Nibbana sama dengan ini dan sama dengan itu ibarat menggambarkan kucing sama dengan harimau.

Nibbana bukanhlah kemusnahan. Mungkinkah Sang Buddha meninggalkan kerajaan, istri, anak, dan keluarga hanya untuk mencapai sesuatu yang musnah? Nibbana bukan suatu keberadaan. Nibbana berada di luar keberadaan dan ketidak beradaan, di mana kedua aspek itu bersyarat, mutlak, dan tidak dapat digambarkan sebagai keberadaan maupun ketidak beradaan.

Nibbana ya Nibbana. Sabda Sang Buddha dalam Udana:

"Itulah tempatnya dimana tiada tanah maupun air, tiada api maupun udara, bukan dunia ini pun bukan dunia lain, tanpa matahari maupun bulan. Aku nyatakan pada kalian, disana tidak ada yang datang maupun pergi, tak ada yang tetap maupun timbul, tanpa awal tanpa akhir,tanpa perkembangan, tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak diciptakan, dan yang mutlak.

Saat dalam kedalaman dan keheningan pikiran, Yang Suci Bijaksana mencapai kebenaran, Ia terlepas dari kegembiraan dan rasa sakit, dari yang berbentuk dan tidak berbentuk. Di mana air, tanah, dan udara tidak ditemukan. Tiada bintang maupun matahari yang bersinar, bulan tidak lagi memancarkan cahayanya. Namun, kegelapan tidak ada disana."

Setelah Parinibbana, Sang Tathaghata tidak dapat dikatakan ada, juga tidak dapat dikatakan tidak ada. Tidak dapat pula dikatakan ada baik kedua-duanya ada dan tidak ada. Tidak bisa pula dikatakan ada atau tidak ada. Di dalam Milanda Panha disebutkan, "Tidak di tempat yang terlihat di timur, selatan, barat, atau utara, di atas, di bawah, atau di luar di mana Nibbana berada, walau demikian Nibbana adalah milik orang yang mengatur hidupnya dengan benar, berbicara dengan benar, dan memiliki pengertian benar di manapun dia hidup."

Nibbana bukanlah sesuatu yang tercipta dengan sendirinya, juga bukan sesuatu yang diciptakan.

"Di mana tidak terdapat 4 unsur air, tanah, api, dan angin, di situlah Nibbana."

"Di mana ke-4 unsur yang mengikat, membentang, membakar, dan bergerak tidak lagi ditemukan, di situlah Nibbana."

"Oh, para bhikkhu, seperti sungai-sungai yang mencapai samudra dan derasnya hujan yang jatuh dari langit, tak ada kekurangan atau kelebihan yang dapat teramati pada samudra, demikian pula bahwa banyak para bhikkhu yang memasuki Nibbana tak bersisa, tak ada kekurangan atau kelebihan di dalam Nibbana," kata Sang Buddha.

Dinyatakan dalam Visudhi Maggha:

"Kesedihan memang ada, tak ada yang disedihkan, tidak ada pelaku pelaku di sana, tidak ada hasil perbuatan ditemukan, Nibbana ada, tetapi tak ada si 'pencari'. Jalannya ada, tetapi si penempuh tidak sesungguhnya ada"
Nibbana berada di luar jhana , karena di sana api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin beserta semua gangguan yang menyertai, hambatan dan penderitaan berakhir. Demikianlah, Nibbana sendiri abadi, bahagia, dan patut didambakan Laksana seorang yang menderita penyakit kulit yang menimbulkan rasa gatal, dan Nibbana seperti kebahagiaan saat penyakitnya telah disembuhkan. Kebahagiaan sementara didapatkan ketika ia menggaruk, tetapi kuku yang segera menginfeksi menjadi sebab yang memperpanjang penyakit penyakit tersebut. Seperti itulah kerinduan akan nafsu membawa kepuasan sementara yang akan memperpanjang lingkaran kelahiran kembali.


Begitulah Nibbana di mana 108 kemelekatan, usia tua, penyakit, kematian, penyesalan, rasa sakit, keputusasaan dan kesedihan, dihentikan sepenuhnya. Demikianlah, saat kondisi tertinggi tercapai, kita akan memahami bagaimana kehidupan bahagia yang kita rindukan itu tak pernah diperoleh. Mimpi kita akan berakhir. Tidak akan ada lagi angan-angan. Prahara berakhir. Perjuangan hidup selesai. Proses alamiah akan berhenti. Maka, sang roda kereta kehidupan akan patah. Keinginan untuk hidup berakhir. Dasar sungai akan mengering. Tiada air lagi yang mengalir.

0 komentar:

Posting Komentar

Agenda Tahun 2018

1. Tanggal 5 - 6 Januari Temu Pelatih Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI 2018. 2. Tanggal 22 April; Video Converenc Maluku Belajar 3. Tanggal 28 April; Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Bidang TIK - Tana Toraja Sulsel. 4. Tanggal 29 - 30 Juni 2018; Workshop Pengembangan Media Pembelajaran Dhammasekha Berbasis IT - Selat Panjang Kep. Mranti Kep. Riau. 5. Tanggal 25 - 27 Juli; Workshop Multimedia Pembelajaran Provinsi Riau 6. Tanggal 30 Juli - 1 Agustus; Workshop Multimedia Pembelajaran Provinsi Riau. 7. Tanggal 30 Oktober - 01 November; TOT Penyusunan Soal USBN 8. Tanggal 18 - 21 November; Workshop Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran Provinsi Lampung.

Translate

Instagram

My Facebook

Post Popular

Dukung Founder Blog Buddhist Education pada Vlog PNS Inspiratif 2018 Bapak Widi Astiyono (Kang Widi)

Para pembaca sekalian dan teman-teman semua, mohon luangkan waktu tak lebih dari 5 menit Vote *Vlog 20 besar PNS Inspiratif 2018,* Kl...

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.