- Mari Terus Berkarya, Berkreasi dan Berinovasi -
Home » , , , » Makna berlindungan kepada Tiratana

Makna berlindungan kepada Tiratana

·         


Aku Berlindung Kepada Buddha;
Di samping kita berlindung kepada Buddha Gotama yang merupakan Buddha yang sekarang (Paccupanna-Buddha), kita juga berlindung kepada Buddha-Buddha yang telah lampau (Atita-Buddha) dan Buddha-Buddha yang akan datang (Anagata-Buddha).
Aku berlindung kepada Sang Buddha, hingga tercapainya Nibbana.
Kepada para Buddha yang lampau,
Kepada para Buddha yang akan datang,
Kepada para Buddha yang sekarang ini,
Setiap hari aku menyampaikan hormatku,
Aku tidak mencari perlindungan lain,
Sang Buddha Pelindungku yang tiada bandingannya,
Semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini,
Kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku,
Secara hidmat dengan menundukkan kepala,
Pada kaki Yang Maha Suci, aku menghormati Beliau.

3 Jenis Buddha (Buddha 3) :
1.  Sammasam-Buddha:
Seseorang yang mencapai Penerangan Sempurna atau tingkat ke-Buddhaan dengan kekuatan sendiri tanpa bantuan makhluk lain, dan mampu memberi­kan pelajaran pada umat manusia dan para dewa.

2.  Pacceka-Buddha:
Seseorang yang mencapai Penerangan Sempurna atau tingkat ke-Buddhaan dengan kekuatan sendiri tanpa bantuan makhluk lain, tetapi tidak mampu memberikan pelajaran pada umat manusia dan para dewa.

3.  Anu-Buddha atau Savaka-Buddha:
Seseorang yang mencapai Penerangan Sempurna atau tingkat ke-Buddhaan setelah melaksanakan Ajaran Sammasam-Buddha.


Aku Berlindung Kepada Dhamma;
Di samping kita berlindung kepada Dhamma yang sekarang (Paccuppanna-Dhamma), kita juga berlindung kepada Dhamma yang telah lampau (Atita DhamIria) dan Dhamma yang akan datang (Anagata-Dhamma).
Aku berlindung kepada Sang Dhamma, hingga tercapai Nibbana.
Kepada Dhamma yang lampau,
Kepada Dhamma yang akan datang,
Kepada Dhamma yang sekarang ini,
Setiap hari aku menyampaikan hormatku.
Aku tidak mencari perlindungan lain,
Sang Dhamma Pelindungku yang tiada bandingannya,
Semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini,
Kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku
Secara hidmat dengan menundukkan kepala,
Aku menghormati Dhamma Tiga Masa yang Agung.

3 Jenis Dhamma (Dhamma 3) :
1. Pariyatti-Dhamma:
Belajar Dhamma- Vinaya secara tekun.
2. Patipatti-Dhamma:
Melaksanakan Dhamma- Vinaya dalam kehidupan sehari-hari secara baik.
3. Pativedha-Dhamma:
Penembusan, yaitu menganalisa kejadian hidup ini dengan melaksanakan Vipassana- Bhavana sehingga mencapai Nibbana.

Aku Berlindung Kkepada Sangha;
Di samping kita berlindung kepada Sangha yang sekarang (Paccuppanna-Sangha), kita juga berlindung kepada Sangha yang telah lampau (Atita-Sangha) dan Sangha yang akan datang (Anagata-Sangha).
Aku berlindung kepada Sang Sangha, hingga tercapai Nibbana.
Kepada Sangha yang lampau,
Kepada Sangha yang akan datang,
Kepada Sangha yang sekarang ini,
Setiap hari aku menyampaikan hormatku.
Aku tidak mencari perlindungan lain,
Sang Sangha Pelindungku yang tiada bandingannya,
Semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini,
Kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku.
Secara hidmat dengan menundukkan kepala,
Aku menghormati Sangha Tiga Masa yang Agung.
2 jenis Sangha (Sangha 2) :
1. Sammuti-Sangha:
Persaudaraan Bhikkhu Biasa, para bhikkhu yang belum mencapai kesucian.
2. Ariya-Sangha:
Persaudaraan Bhikkhu Suci, para bhikkhu yang telah mencapai kesucian, yaitu tingkat-tingkat kesucian Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat.
“BERLINDUNG KEPADA SANGHA” adalah dimaksudkan kita berlindung kepada Ariya-Sangha (Persaudaraan Bhikkhu Suci) dan kita tidak berlindung kepada Sammuti­Sangha (Persaudaraan Bhikkhu Biasa), hanya menghormati para beliau karena mengemban Amanat Sang Buddha Gotama sebagai Pelindung dan Penyebar Dhamma. Tisarana adalah ungkapan keyakinan (saddhft) bagi umat Buddha. Saddha yang diungkapkan dengan kata “berlindung” itu mempunyai tiga aspek :
  1. Aspek kemauan: Seorang umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan penuh kesadaran, bukan sekedar sebagai kepercayaan teoritis, ad at kebiasaan atau tradisi belaka. Tiratana akan benar-benar menjadi kenyataan bagi seseorang, apabila ia sungguh-sungguh berusaha men­capainya. Karena adanya unsur kemauan inilah, maka saddha dalam agama Buddha merupakan suatu tindakan yang aktif dan sadar yang ditujukan untuk mencapai pembebasan, dan bukan suatu sikap yang pasif, “menunggu berkah dari atas”.
  2. Aspek pengertian: Ini mencakup pengertian akan perlunya Perlindungan, yang memberi harapan dan menjadi tujuan bagi semua makhluk dalam samsara ini, dan pengertian akan adanya hakekat dari perlindungan itu sendiri.
  3. Aspek perasaan : Yang berlandaskan aspek pengertian di atas, dan mengandung unsur-unsur keyakinan, pengabdian dan cinta kasih. Pengertian akan adanya Perlindungan memberikan keyakinan yang kokoh dalam diri sendiri, serta menghasilkan ketenangan dan kekuatan. Pengertian akan perlunya Perlindungan mendorong pengabdian yang mendalam kepada-Nya, dan pengertian akan hakekat Perlindungan memenuhi bathin dengan cinta kasih kepada Yang Maha Tinggi, yang memberikan semangat, keha­ngatan dan kegembiraan.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa “berlindung” dalam agama Buddha berarti : “Suatu tindakan yang sadar yang bertujuan untuk mencapai pembebasan, yang berlandaskan pengertian dan didorong oleh keyakinan”. Atau secara singkat: “Suatu tindakan sadar dari pada keyakinan, pengertaian dan pengabdian”.
Ketiga aspek dari pada “berlindung” ini sesuai dengan aspek kemauan, aspek pengertian dan aspek perasaan dari bathin manusia. Oleh karena itu untuk mendapatkan perkembangan bathin yang harmonis, ketiga aspek ini harus dipupuk bersama-sama.
Berlindung kepada Tiratana sebagai peng~capan kata-kata belaka tanpa dihayati, berarti kemerosotan dari suatu kebiasaan kuno yang mulia. Perbuatan demikian melenyapkan makna dan manfaat dari Perlindungan. Berlindung kepada Tiratana seharusnya merupakan ungkapan dari suatu dorongan bathin yang sungguh-sungguh, seperti seorang yang apabila melihat suatu bahaya besar akan bergegas mencari perlindungan. Orang yang melihat rumahnya terbakar, tidak akan memperoleh keselamatan hanya dengan memuja keamanan dan kebebasan di luar tanpa bertindak untuk mencapainya.
Tindakan pertama ke arah keselamatan dan kebebasan ialah dengan “berlindung” secara benar, yaitu suatu tindakan sadar daripada keyakinan, pengertian dan pengabdian.
  • BUDDHA, sebagai perlindungan pertama, mengandung arti bahwa setiap orang mempunyai benih kebuddhaan dalam dirinya, bahwa setiap orang dapat mencapai apa yang telah dicapai oleh Sang Buddha Gotama “Seperti sayalah para penakluk yang telah melenyapkan kekotoran bathin” (Ariyapariyesana Sutta, Majjhima Nikaya). Sebagai Perlindungan, Buddha bukanlah pribadi Pertapa Gotama, melainkan para Buddha sebagai manifestasi daripada Bodhi (Kebuddhaan) yang mengatasi keduniawian (lokuttara).
  • DHAMMA, sebagai perlindungan kedua, bukan berarti kata-kata yang terkandung dalam kitab suci atau konsepsi ajaran yang terdapat dalam bathin manusia biasa yang masih berada dalam alam keduniaan” (lokiya), melainkan “Empat Tingkat Kesucian (Sotapanna, Sakadagami, Anagami, dan Arahat) beserta Nibbana” yang dicapai pada akhir jalan.
  • SANGHA, sebagai perlindungan ketiga, bukan berarti kumpulan para bhikkhu yang anggota-anggotanya masih belum bebas dari kekotoran bathin (bhikkhu sangha), melainkan Pasamuan Para Bhikkhu Suci yang telah mencapai tingkat-tingkat Kesucian (Ariya Sangha). Mereka ini menjadi teladan yang patut dicontoh. Namun landasan sesungguhnya dari Perlindungan ini ialah kemampuan yang ada pada setiap orang untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian itu.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha dalam aspeknya sebagai Perlindungan mempunyai sifat mengatasi keduniaan (lokuttara). Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha merupakan manifestasi daripada Yang Mutlak, Yang Esa, yang menjadi tujuan terakhir semua makhluk. Buddha, Dhamma dan Sangha sebagai Tiratana adalah bentuk kesucian tertinggi yang dapat ditangkap oleh pikiran manusia biasa, dan oleh karena itu diajarkan sebagai Perlindungan yang Tertinggi oleh Sang Buddha.

0 komentar:

Posting Komentar

Agenda Tahun 2018

1. Tanggal 5 - 6 Januari Temu Pelatih Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI 2018. 2. Tanggal 22 April; Video Converenc Maluku Belajar 3. Tanggal 28 April; Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Bidang TIK - Tana Toraja Sulsel. 4. Tanggal 29 - 30 Juni 2018; Workshop Pengembangan Media Pembelajaran Dhammasekha Berbasis IT - Selat Panjang Kep. Mranti Kep. Riau. 5. Tanggal 25 - 27 Juli; Workshop Multimedia Pembelajaran Provinsi RIau

Translate

Instagram

My Facebook

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.