- Mari Terus Berkarya, Berkreasi dan Berinovasi -
Home » , , , , » Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Agama Buddha

Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Agama Buddha



Setiap agama bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa, terlepas dari pengertian dan makna yang diberikan oleh tiap-tiap agama terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap pemeluk agama mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidaklah sama dengan umpamanya : percaya adanya suatu telaga di puncak gunung yang tinggi. Percaya tentang adanya suatu telaga di puncak gunung tidak berpengaruh pada sikap hidup dan perilaku seseorang sehari-hari. Tetapi sebaliknya, percaya terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa berakibat penyerahan diri (attasanniyyatana) kepada-Nya. Penyerahan diri itu tertampak dalam perbuatan, sedangkan perbuatan tersebut merupakan kebajikan (puñña), dan itulah yang disebut hidup beragama. Perbuatan itu hendaknya dilandasi oleh kesadaran, dilakukan dengan sadar, bukan kebiasaan, bukan adat istiadat, bukan pula tradisi.

Perbuatan beragama memberikan pengalaman. Pengalaman manusia dalam beragama merupakan pengalaman yang mengintegrasikan hidupnya. Demikianlah maka hidupnya mempunyai tujuan, oleh karena itu hidup menjadi bermakna.

Sering kita melihat orang hidup berkecukupan materi, berpangkat, dan berkuasa, tetapi mereka itu hidupnya sepi, kosong, tidak ada keutuhan, dan terasa adanya disintegrasi diri, karena tidak adanya tujuan hidup. Tujuan itu terdapat dalam setiap agama.

Tujuan hidup menurut Ajaran Buddha
Sejak mulai dibabarkannya ajaran Kebenaran (Dhamma) oleh Buddha Gotama, telah terdapat pengertian Tuhan Yang Maha Esa yang memungkinkan manusia mengakhiri penderitaannya untuk selama-lamanya, yang menjadi tujuan hidup terakhir menurut ajaran Buddha.

Khotbah Buddha yang terdapat dalam Kitab Udana VIII, 3 demikian :

“ Atthi bhikkhave ajâtam abhûtam akatam asankhatam,
no ce tam bhikkhave abhavisam ajâtam abhûtam akatam asankhatam,
nayidha jâtassa bhûtassa katassa sankhatassa nissaranam paññâyetha.
Yasmâ ca kho bhikkhave atthi ajâtam abhûtam akatam asankhatam,
Tasmâ jâtassa bhûtassa sankhatassa nissaranam paññâya’ ti. “

“Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, dan pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, dan pemunculan dari sebab yang lalu.“

Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Buddha adalah “ Atthi Ajâtam Abhûtam Akatam Asankhatam “ (dalam bahasa Pâli), yang artinya “Suatu yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak”. Sedangkan istilah Asankhata dalam bahasa Pâli berarti Yang Maha Esa atau Yang Mutlak.

Agama Buddha tidak pernah menjelaskan Tuhan Yang Maha Esa dengan pemahaman Anthropomorphisme (ukuran bentuk manusia) dan Anthropopathisme (ukuran perasaan manusia). Penjelasan Tuhan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha tidak dapat diapa-siapakan.

Yang Maha Esa atau Yang Mutlak dalam agama Buddha bukan merupakan suatu pribadi sempurna atau makhluk agung atau kekuatan luar biasa yang kepada-Nya umat Buddha memanjatkan doa dan menggantungkan hidupnya. Agama Buddha mengajarkan bahwa nasib, penderitaan, maupun kebahagiaan manusia adalah hasil dari perbuatannya sendiri di masa lampau maupun masa sekarang, sesuai hukum perbuatan (kamma) yang merupakan salah satu aspek Kebenaran (Dhamma).

Jadi Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Buddha merupakan suatu keadaan tertentu yang keberadaannya secara pasti dan tepat hanya dapat direalisai oleh setiap orang dalam batinnya masing-masing setelah orang itu mengalami perkembangan batin tingkat tinggi (Bodhi/Pencerahan Sempurna).

Perkembangan batin tingkat tinggi merupakan hasil dari latihan pelaksanaan moral (Sîla), latihan pemusatan batin (Samâdhi), dan latihan pengembangan kebijaksanaan (Pañña).

Tingkat batin tinggi itu akan memahami segala sesuatu yang ada sesungguhnya keberadaannya tanpa inti atau tanpa substansi (anatta). Keberadaan segala sesuatu hanyalah sebagai ujud dari proses perubahan terus menerus berlangsung tanpa inti yang tetap tinggal diam meskipun sesaat.

Perwujudan Tuhan Yang Maha Esa
Pengertian sejati terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha merupakan pengertian yang di luar alam pikiran duniawi (lokuttara), sedangkan manusia yang belum mengalami perkembangan batin tingkat tinggi membutuhkan pengertian Tuhan Yang Maha Esa yang mudah dipahami sesuai dengan alam pikiran duniawi (lokiya).

Tuhan Yang Maha Esa sebagai tujuan akhir hidup manusia dipahami sebagai berakhirnya penderitaan untuk selama-lamanya atau kebebasan mutlak.

Umat Buddha memiliki “perlindungan” yang disebut Tiga Permata (Tiratana). Perlindungan ini dipahami sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan umat Buddha terbebas dari penderitaan hidup. Tiga Permata itu adalah Permata Buddha, Permata Dhamma dan Permata Saõgha. Permata di sini hanyalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan sesuatu yang bernilai tinggi.

Permata Buddha bukanlah manusia Siddhattha Gotama yang lahir di India Utara, kemudian menjadi Buddha, tetapi hakikat pribadi yang terdapat dalam diri Buddha, yang tidak lain adalah Kebebasan Mutlak.

Permata Dhamma bukanlah kumpulan kitab suci yang memuat ajaran Buddha, tetapi hakikat ajaran Buddha yang terdapat dalam Kitab Suci Tipiöaka, yang tidak lain adalah Kebebasan Mutlak.

Permata Saõgha bukanlah kelompok siswa-siswa Buddha yang telah memperoleh hasil dalam pelaksanaan ajaran Buddha, tetapi hakikat pribadi yang terdapat dalam diri siswa-siswa tersebut, yang tidak lain adalah Kebebasan Mutlak.

Dengan demikian terdapat hal yang sama dalam Tiga Permata tersebut yaitu Kebebasan Mutlak, berakhirnya penderitaan untuk selama-lamanya, oleh karena itu Tiga Permata (Tiratana) merupakan perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam alam pikir duniawi umat Buddha yang diperlukan untuk kepentingan objek penghormatan, dan landasan keyakinan umat Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Hukum Dhamma (Niyama Dhamma)
Hukum Dhamma merupakan hukum yang menguasai dan mengatur alam semesta, tidak diciptakan, dan kekal sepanjang masa.

Salah satu khotbah Buddha, Dhammaniyama Sutta, Buddha mengatakan bahwa apakah Tathagata (nama lain Buddha) muncul di dunia ataupun tidak, Hukum Dhamma tetap ada, merupakan hukum yang kekal. Hukum pengatur semua “ada” yang terbentuk.

Keterangan yang terdapat dalam Kitab Suci Tipiöaka menjelaskan bahwa Hukum Dhamma ,meliputi lima (5) hal, yaitu :

1. Utu Niyama, hukum yang mengatur gejala-gejala fisika dan kimia.
2. Bija Niyama, hukum yang mengatur gejala-gejala biologi.
3. Kamma Niyama, hukum yang mengatur sebab akibat perbuatan.
4. Citta Niyama, hukum yang mengatur proses pikiran/batin.
5. Dhamma Niyama, hukum yang mengatur gejala-gejala alam lainnya.

Hukum Dhamma ini berfungsi mengatur dan menguasai peristiwa pembentukan, kelangsungan, dan kehancuran segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Hukum ini diajarkan oleh Buddha untuk menjelaskan keberadaan manusia dan lingkungannya.

Tuhan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha merupakan tujuan akhir hidup umat manusia, kebebasan mutlak, berakhirnya penderitaan untuk selama-lamanya. Penjelasan Tuhan Yang Maha Esa dalam Kitab Suci Tipitaka adalah Ajâtam (Tidak Dilahirkan), abhûtam (Tidak Dijelmakan), Akatam (Tidak Diciptakan), dan Asankhatam (Yang Mutlak). Sedangkan istilah yang lebih umum dipergunakan untuk menyebutkan Tuhan Yang Maha Esa adalah Asankhata atau Yang Maha Esa.

Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha ditandai dengan munculnya pemahaman/pandangan terang tentang segala sesuatu yang ada kelangsungannya tanpa aku, tanpa inti atau tanpa substansi.

Tuhan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha bercorak transenden bagi alam pikir duniawi manusia yang belum mencapai peningkatan batin, tetapi akan terwujud dalam pengertian Tiga Permata (Tiratana), Permata Buddha (Buddharatana), Permata Dhamma (Dhammaratana), dan Permata Sangha (Sangharatana) sebagai suatu pemahaman yang diperlukan bagi objek penghormatan, dan landasan keyakinan umat Buddha dalam kehidupan sehari-hari.


Kepustakaan
Dharmaputra A.W. , 1995, Hakikat Ketuhanan Buddhisme Awal, Tesis S.2 Program Studi Ilmu Filsafat, Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora, Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tidak diterbitkan.

Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia, 1992, Pedoman Penghayatan dan Pembabaran Agama Buddha Mazhab Theravâda di Indonesia, Penerbit Yayasan Dhammadîpa Arama, Jakarta.


Rashid, Teja S.M. , 1996, Dhamma, Arti Kata dan penggunaannya dalam Agama Buddha, Penerbit Yayasan Bodhi, Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Agenda Tahun 2018

1. Tanggal 5 - 6 Januari Temu Pelatih Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI 2018. 2. Tanggal 22 April; Video Converenc Maluku Belajar 3. Tanggal 28 April; Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Bidang TIK - Tana Toraja Sulsel. 4. Tanggal 29 - 30 Juni 2018; Workshop Pengembangan Media Pembelajaran Dhammasekha Berbasis IT - Selat Panjang Kep. Mranti Kep. Riau. 5. Tanggal 25 - 27 Juli; Workshop Multimedia Pembelajaran Provinsi RIau

Translate

Instagram

My Facebook

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.