- Mari Terus Berkarya, Berkreasi dan Berinovasi -
Home » , , , » Doa - Dalam Agama Buddha

Doa - Dalam Agama Buddha



Arti Doa

Alam itu tidak memihak; alam tidak dapat disanjung oleh doa. Alam tidak menghibahkan kemurahan khusus apapun atas permintaan. Manusia bukanlah makhluk yang jatuh, melainkan malaikat yang bangkit. Doa terjawab oleh kekuatan pikiran mereka sendiri.

Menurut ajaran Buddha, manusia adalah guru potensial bagi dirinya sendiri. Hanya karena ketaktahuannya yang mendalam, manusia harus mengembangkan batinnya dan melatihnya dengan menyadari kemampuan bawaannya. Sebuah cerita akan menggambarkan hal ini. Suatu hari seekor elang akan meninggalkan telurnya di dalam sarang ayam betina. Ayam betina itu menetaskan telur elang itu bersama-sama anaknya sendiri. Anak tetasan itu kemudian mengikuti induk ayam, seperti induknya mengajarkan mereka untuk mengais tanah untuk mencari makanan. Anak elang yang berpikir bahwa dirinya seekor anak ayam melakukan hal yang sama. Suatu saat ia melihat seekor elang terbang tinggi di langit, dan memutuskan untuk melakukan hal serupa. Anak ayam yang lain menertawakannya, tapi ia tak peduli. Setiap hari ia berlatih tekun sampai suatu hari ia menjadi cukup kuat dan melayang di udara, manjadi raja angkasa, sementara anak ayam lainnya terus hidup di atas tanah. Kita harus berpikir seperti burung elang itu.

Ajaran Buddha memberikan tanggung jawab dan martabat penuh kepada manusia. Ajaran Buddha membuat manusia menjadi tuannya sendiri. Menurut ajaran Buddha, tidak ada makhluk yang lebih tinggi yang duduk untuk menghakimi perbuatan dan nasib seseorang. Hal ini berarti hidup kita, masyarakat kita, dunia kita, adalah apa yang Anda dan saya ingin perbuat dengannya, dan bukan apa yang diinginkan makhluk antah berantah.

Ingatlah bahwa alam itu tidak memihak; tidak dapat disanjung oleh doa-doa. Alam tidak menghibahkan kemurahan khusus apapun karena permohonan. Jadi dalam ajaran Buddha, doa adalah meditasi dengan perubahan diri sebagai objeknya. Doa dalam meditasi akan mengkondisikan sifat kita. Hal itu merupakan perubahan sifat dalam diri kita yang dicapai dengan pemurnian tiga daya. - pikiran, perkataan dan perbuatan. Melalui meditasi kita dapat memahami bahwa "kita adalah apa yang kita pikirkan", sesuai dengan penemuan psikologi. Jika kita berdoa, kita mengalami suatu kelegaan dalam batin kita; itulah efek psikologis yang kita ciptakan melalui iman dan devosi kita. Setelah melafalkan ayat tertentu kita juga mengalami hasil yang sama. Nama atau simbol religius tertentu adalah penting sejauh mereka menolong mengembangkan devosi dan keyakinan diri, namun harus tetap tidak dianggap sebagai akhir dari segalanya.

Buddha sendiri telah menyatakan dengan jelas bahwa bukanlah pengucapan ayat-ayat suci, penyiksaan diri atau tidur di atas tanah, atau pengulangan doa-doa, penebusan dosa, kidung, jimat, mantra, jampi, atau rapalan yang dapat membawa kebahagiaan sejati Nibanna, namun hanya pemurnian batin melalui upaya sendiri yang dapat melakukannya.

Mengenai penggunaan doa-doa untuk mencapai tujuan akhir, Buddha pernah membuat analogi tentang seorang manusia yang ingin menyebrang sungai. Jika ia duduk dan berdoa memohon agar tepian sebrang datang padanya dan membawanya ke sebrang, maka doanya tidak akan terjawab. Jika ia benar-benar ingin menyebrang sungai itu, ia harus berusaha; ia harus mencari balok kayu dan membikin rakit, atau mencari jembatan, atau membuat perahu, atau barangkali berenang. Dengan suatu cara ia harus bekerja untuk menyebrang sungai. Demikian juga, jika ia ingin menyebrangi sungai samsara, doa-doa saja tidaklah cukup. Ia harus bekerja keras dengan menjalani kehidupan religius, mengendalikan nafsunya, menenangkan batinnya, dan dengan menyingkirkan semua ketidakmurnian dan kotoran dalam batinnya. Hanya dengan demikian ia dapat mencapai tujuan akhir. Doa saja tidak akan pernah membawanya ke tujuan akhir.

Jika doa diperlukan, hal itu sebaiknya guna memperkuat dan memusatkan batin, dan bukan untuk memohon sesuatu. Doa berikut dari seorang penyair mengajarkan kita bagaimana caranya berdoa. Umat Buddha akan menganggap hal ini sebagai meditasi untuk mengembangkan batin:

Semoga aku tak berdoa untuk dijauhkan dari marabahaya,
tetapi berdoa agar tak takut menghadapinya.
Semoga aku tak berdoa untuk diredakan dari rasa sakit,
tetapi demi hati yang menaklukkannya.
Semoga aku tak rindu diselamatkan dari rasa takut,
tetapi bisa mengandalkan kesabaran untuk memenangkan keterbatasanku.

Diambil Dari: Buku Keyakinan Umat Buddha Karangan Dr. Sri Dhammananda

0 komentar:

Posting Komentar

Agenda Tahun 2018

1. Tanggal 5 - 6 Januari Temu Pelatih Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI 2018. 2. Tanggal 22 April; Video Converenc Maluku Belajar 3. Tanggal 28 April; Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Bidang TIK - Tana Toraja Sulsel. 4. Tanggal 29 - 30 Juni 2018; Workshop Pengembangan Media Pembelajaran Dhammasekha Berbasis IT - Selat Panjang Kep. Mranti Kep. Riau. 5. Tanggal 25 - 27 Juli; Workshop Multimedia Pembelajaran Provinsi RIau

Translate

Instagram

My Facebook

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.