- Mari Terus Belajar, Berinovasi, Berkreasi dan Berkarya -

Video Profile Kang Widi

Silabus Pendidikan Agama Buddha SMA/SMK - K 13

Riwayat Buddha Gotama (Bagian 8) - Perjalanan Terakhir Sang Buddha


Perjalanan Terakhir
Menjelang tengah hari, setelah mempersiapkan diri, membawa mangkuk dan jubah-Nya, Sang Bhagava berjalan menuju Vesali untuk mengumpulkan dana makanan. Saat itu adalah tahun 544 S.M, tiga bulan sebelum memasuki bulan Vesak tahun 543 S.M, beberapa bulan setelah Sariputta dan Moggallana, kedua Siswa Utama Sang Bhagava mencapai Nibbana Akhir (Parinibbana) di hari bulan purnama bulan Kattika.

Setelah makanan terkumpul dan disantap, dalam perjalanan pulang Sang Bhagava meminta Bhikkhu Ananda untuk mengambil sehelai tikar dan mengajaknya ke cetiya Capala. Setelah tiba di cetiya Capala, Sang Bhagava memberikan sebuah peringatan kepada Bhikkhu Ananda mengenai batas waktu kehidupan-Nya. Namun, saat itu Ananda tidak menyadari hal itu meskipun Sang Bhagava mengulanginya untuk ketiga kalinya.

Setelah mengulangi peringatan tersebut sebanyak tiga kali dan Bhikkhu Ananda tidak menanggapinya, Sang Bhagava mempersilahkan Bhikkhu Ananda untuk melakukan hal lain yang sepatutnya ia perbuat. Bhikkhu Ananda lalu bangkit dari tempat duduknya, memberi hormat kepada Sang Bhagava, dan mengundurkan diri dengan Sang Bhagava tetap di sebelah kanannya. Kemudian Bhikkhu Ananda duduk di bawah sebatang pohon pada jarak yang tidak jauh dari tempat tersebut.

Pada saat kesendirian-Nya itu, Sang Bhagava menetapkan bahwa Ia akan Parinibbana (kemangkatan mutlak) tiga bulan dari saat itu.

Kemudian, Sang Bhagava bersama dengan Bhikkhu Ananda menuju Balairung Puncak di Mahavana dan memintanya untuk memanggil semua bhikkhu yang berada di sekitar Vesali untuk berkumpul di aula pertemuan.

Setelah membabarkan mengenai Ketiga Puluh Tujuh Syarat Pencerahan (Bodhipakkhiyadhamma) kepada Sangha Bhikkhu, Sang Bhagava memberitahukan saat Parinibbana-Nya: “Dengarkanlah, para Bhikkhu, sekarang Saya nyatakan kepada kalian: semua hal yang terkondisi pasti akan hancur. Berjuanglah dengan penuh kesadaran! Wafatnya Tathagata tak lama lagi akan terjadi. Tiga bulan sejak saat ini, Tathagata akan mencapai Parinibbana.”

Inilah yang dikatakan Sang Bhagava. Setelah mengatakan hal ini, Sang Bhagava melantunkan syair berikut:

“Telah lanjut usia-Ku, hidup-Ku hanya tersisa sedikit. Aku akan berangkat meninggalkan kalian. Aku telah menjadikan diri-Ku sebagai pernaungan-Ku sendiri. Berusahalah dengan tekun dan dengan perhatian murni! Bersikap baik, O para Bhikkhu! Dengan pikiran yang terpusat penuh, jagalah batin kalian! Barang siapa berusaha dengan tekun dalam ajaran ini, akan meninggalkan lingkaran tumimbal lahir dan mencapai akhir segala derita.”

Di hari berikutnya, saat fajar, Sang Bhagava menata jubah-Nya; sambil membawa mangkuk dana dan jubah luar-Nya, Ia menuju Vesali untuk menerima dana makanan. Setelah menerima dana makanan dan bersantap, saat meninggalkan tempat itu Ia membalikkan badan dan menatap Vesali dengan tatapan sesosok gajah pengading suci. Lalu ia berkata kepada Bhikkhu Ananda, “Ananda, inilah terakhir kalinya Tathagata menatap Vesali. Mari, Ananda, mari kita pergi ke Bhandagama!”

Dengan diiringin sejumlah besar bhikkhu, Sang Bhagava menempuh perjalanan ke Bhandagama. Setelah tinggal di Bhandagama selama yang dikehendaki-Nya, Sang Bhagava menempuh perjalanan secara bertahap dengan sejumlah besar bhikkhu ke Hatthigama, Ambagama, Jambugama, dan kemudian ke Bhoganagara. Selagi di Bhoganagara, Sang Bhagava mengajarkan pada sekumpulan banyak bhikkhu mengenai Empat Narasumber Utama (Mahapadesa).

MAKANAN TERAKHIR SANG BHAGAVA
Kemudian, setelah Sang Bhagava tinggal di Bhoganagara, Ia melanjutkan perjalanan ke Pava dengan sekumpulan besar bhikkhu dan tinggal di hutam mangga milik Cunda, putra si pandai besi (kammaraputta).


Mendengar berita kedatangan Sang Bhagava di hutan mangganya, Cunda segera menghadap Sang Bhagava dan memberi sembah hormat pada-Nya. Sang Bhagava memberinya dorongan dengan pembabaran Dhamma serta membahagiakannya dalam latihan Dhamma. Setelah mendengarkan Dhamma, Cunda mengundang Sang Bhagava beserta Sangha bhikkhu untuk menerima persembahan dana makanan keesokan harinya. Sang Bhagava menyetujuinya dengan berdiam diri.

Keesokan harinya, Cunda mempersiapkan makanan yang mewah, termasuk masakan khusus yang disebut sukaramaddava (menurut Digha Nikaya Atthakatha, sukaramaddava atau daging babi lunak adalah daging seekor babi yang tidak terlalu muda atau terlalu tua, namun yang tidak dibunuh khusus untuk-Nya [pavattamamsa]; sebagian ahli menafsirkannya sebagai beras lunak yang ditanak dengan lima macam makanan olahan dari sapi; sementara sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa makanan tersebut adalah makanan khusus yang dipersiapkan dengan ramuan tertentu yang lezat dan sangat bergizi yang disebut rasayana).

Ketika makanan dipersembahkan, Sang Bhagava meminta Cunda untuk menghidangkan sukaramaddava kepada diri-Nya semata, dan menghidangkan makanan lainnya bagi Sangha bhikkhu. Seusai makan, Sang Bhagava meminta Cunda untuk memendam sisa sukaramaddava itu di dalam lubang karena Ia tidak melihat siapa pun yang mampu mencernanya dengan baik. Namun, setelah makan, sejenis disentri akut menyerang Sang Bhagava, dan menyebabkan kucuran darah yang disertai rasa sakit yang amat menusuk. Sang Bhagava menahan rasa sakit ini tanpa mengeluh dan tetap berperhatian murni dengan pemahaman jernih. Dengan menahan sakit, Sang Bhagava berkata, “Mari, kita pergi ke Kusinara.”

PERJALANAN MENUJU KUSINARA
Dalam perjalanan ke Kusinara, Sang Bhagava merasa letih dan haus. Ia duduk di bawah sebatang pohon dan meminta Bhikkhu Ananda untuk mengambilkan air di aliran air di sekitar tempat itu. Namun beberapa kereta baru saja lewat sehingga aliran air tersebut menjadi keruh. Bhikkhu Ananda menyarankan Sang Bhagava, “Bhante, Sungai Kakuttha berada tidak jauh dari sini; air dingin di sungai itu jernih, menyegarkan, tidak kotor; tepian sungai itu bersih dan menyenangkan. Sang Bhagava bisa minum dan menyejukkan tungkai di sana.”


Untuk kedua kalinya, Sang Bhagava meminta dan menerima jawaban yang sama. Setelah yang ketiga kalinya, Bhikkhu Ananda menurut dan berkata, “Baiklah, Bhante.” Dan ketika Bhikkhu Ananda tiba di aliran air itu, berkat kekuatan Sang bhagava, ia mendapatkan aliran air yang dangkal itu menjadi jernih, murni, dan tidak kotor. Lalu ia mengambil air dan memasukkannya ke dalam mangkuk dananya. Kemudian ia kembali menghadap Sang Bhagava dan memberitahukan-Nya apa yang telah terjadi, seraya menambahkan: “Semoga Sang Bhagava bersedia minum air ini! Semoga Yang Mahasuci bersedia minum air ini!” Lalu, Sang Bhagava pun minum.

Setelah Sang Bhagava minum dan ketika masih duduk di kaki pohon itu, seorang pangeran Malla yang bernama Pukkusa – seorang siswa Alara Kalama yang sedang menempuh perjalanan dari Kusinara menuju Pava, melihat Sang Bhagava dan menghadap-Nya. Ia menceritakan pengalaman gurunya dalam meditasi. Kemudian Sang Bhagava menceritakan pengalaman-Nya kepada Pukkusa. Pukkusa sungguh terkesan dengan ketenangan Sang Bhagava, lalu ia mengambil pernaungan dalam Tiga permata sampai akhir hayatnya. Setelah itu, ia mempersembahkan sepasang jubah berwarna keemasan kepada Sang Bhagava. Akan tetapi, Sang Bhagava meminta Pukkusa untuk mempersembahkan sehelai jubah kepada-Nya dan sehelai lainnya kepada Bhikkhu Ananda.

Segera setelah Pukkusa pergi, Bhikkhu Ananda memakaikan pasangan jubah keemasan itu di tubuh Sang Bhagava. Ia terkejut karena warna cemerlang dari jubah keemasan itu pudar ketika dipakaikan pada tubuh Sang Bhagava. Melihat hal ini, Bhikkhu Ananda berseru terhadap apa yang dilihatnya. Untuk itu, Sang Bhagava menjelaskan bahwa ada dua peristiwa yang bisa menyebabkan warna alami dari kulit Tathagata menajdi sangat bersih dan bersinar, yaitu pada malam hari saat Ia mencapai Nibbana, dan pada malam Ia mencapai Parinibbana.

Sang Hagava lalu menyatakan bahwa pada waktu jaga malam terakhir hari itu jyga di antara kedua pohon sala kembar di hutan sala milik kaum Malla, di dekat Kusinara, Tathagata akan mencapai Parinibbana.

Kemudian, Sang Bhagava melanjutkan perjalanan ke Sungai Kakuttha, dan di sana Ia mandi untuk yang terakhir kalinya, dan meminum air sungai tersebut. Setelah itu, Ia menuju ke sebuah hutan mangga dan beristirahat sejenak di sana, dengan berbaring di sisi kanan-Nya laksana singa yang tengah tidur. Ia berbaring pada jubah luar yang telah disiapkan oleh Bhikkhu Cundaka.

Ketika beristirahat di sana, Sang Bhagava berkata kepada Bhikkhu Ananda agar menghalau rasa sesal yang muncul dalam diri Cunda, putra si pandai besi ketika ada orang yang menganggap bahwa ia adalah orang yang tidak beruntung karena Tathagata wafat setelah menyantap makanan terakhir-Nya yang ia siapkan. Rasa sesal Cunda perlu dihilangkan dengan mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang mujur besar karena Tathagata wafat setelah menyantap makanan terakhir-Nya yang ia siapkan. Sang Bhagava juga menyatakan bahwa ada dua pemberian dana yang luar biasa, yaitu dana yang dimakan Tathagata tepat sebelum Ia mencapai Nibbana dan dana yang dimakan Tathagata tepat sebelum Ia mencapai Nibbana Akhir tanpa sisa (Parinibbana).

DI BAWAH POHON SALA KEMBAR
Setelah istirahat singat itu, Sang Bhagava melanjutkan perjalanan akhir-Nya dengan serombongan besar bhikkhu, Mereka menyeberangi Sungai Hirannavati dan menuju ke hutan sala milik kaum Malla di dekat Kushinara, tempat peristirahatan-Nya yang terakhir.
Saat tiba di sana, Sang Bhagava meminta Bhikkhu Ananda untuk meyiapkan dipan di antara dua pohon sala kembar itu, dengan bagian kepala dipan menghadap ke utara. Setelah siap, Sang Bhagava berbaring di sisi kanan-Nya dalam postur singa, dengan tungkai kaki yang satu tertumpu pada yang lainnya, berperhatian murni dan sangat sadar. Saat itu, banyak sekali bunga bermekaran di pohon sala kembar tersebut, meskipun saat itu belum musim bunga.

Pada kesempatan itu, Sang Bhagava memberikan petunjuk mengenai empat tempat yang layak diziarahi oleh umat yang penuh keyakinan dan yang akan menginspirasikan kebangkitan spiritual dalam diri mereka. Tempat-tempat itu meliputi:
1. Lumbini, tempat kelahiran Tathagata.
2. Buddha Gaya, tempat Tathagata mencapai Pencerahan Sempurna.
3. Taman Rusa di Isipatana dekat Baranasi (Benares), tempat Tathagata memutar roda Dhamma pertama kali.
4. Kushinara, tempat Tathagata mencapai Parinibbana, Pembebasan Akhir, terhentinya kelima gugus secara penuh.

Lalu Bhikkhu Ananda menanyakan berbagai hal di antaranya bagaimana sebaiknya para bhikkhu memperlakukan sisa-sisa tubuh Tathagata. Sang Bhagava menjawab, “Ananda, janganlah merepotkan diri dengan menghormati sisa-sisa tubuh Tathagata. Engkau harus berusaha untuk mencapai tujuan tinggi. Curahkanlah usahamu untuk mencapai Nibbana! Berlatihlah dengan gigih, tekun, dan tanpa lalai demi kebaikanmu sendiri. Ada kaum kesatria, kaum brahmana, dan perubah tangga yang bijaksana, yang memiliki keyakinan teguh terhadap Tathagata; mereka akan menghormati sisa-sisa tubuh Tathagata.”

Setelah tanya jawab tersebut, Bhikkhu Ananda merasa sedih bahwa hari itu juga Tathagata akan mencapai Parinibbana. Ia lalu masuk ke sebuah gubuk tempat tinggal, bersandar pada tiang pintu, dan berdiri sambil meratap. Menyadari bahwa Bhikkhu Ananda tidak berada di sisi-Nya, Sang Bhagava meminta seorang bhikkhu untuk memanggilnya menghadap, lalu Sang Bhagava menghibur Bhikkhu Ananda.


Sang Bhagava memuji Bhikkhu Ananda sebagai seseorang yang bijaksana dan piawai dalam mengatur waktu yang tepat bagi para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, dan upasika untuk datang menjumpai Sang Bhagava. Sang Bhagava juga mengagumi Bhikkhu Ananda karena memiliki empat sifat yang sangat baik dan mengagumkan.

Setelah itu Sang Bhagava membabarkan Mahasudassana Sutta dan kemudian Ia meminta Bhikkhu Ananda untuk pergi ke Kusinara untuk mengumumkan kepada kaum Malla dari Kusinara bahwa Tathagata akan mencapai Nibbana Akhir pada waktu jaga malam yang ketiga. Mendengar pesan yang disampaikan oleh Bhikkhu Ananda, para pangeran Malla, dengan para putra, putri, menantu perempuan, serta para istri mereka merasa sangat sedih dan sangat terpukul oleh derita dan duka. Mereka menuju ke hutan sala itu untuk memberikan penghormatan yang terakhir pada Sang Bhagava.

Riwayat Buddha Gotama (Bagian 7) - Empat Puluh Lima Tahun Membabarkan Dhamma


Menaklukkan Ular Berbisa Di Gua Petapa Uruvela Kassapa
45 Tahun Membabarkan Dhamma
Setelah Sang Bhagava mengutus keenam puluh siswaNya, Beliau sendiri tetap melanjutkan pembabaran Dhamma tanpa kenal lelah selama empat puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun pertama masa pembabaran Dhamma ini, Sang Bhagava melewatkan masa berdiam musim hujan di berbagai tempat. Namun, selama dua puluh lima tahun terakhir, Ia melewatkan sebagian besar masa berdiam-Nya di Savatthi. Berikut adalah kronologi pembabaran Dhamma oleh Buddha selama empat puluh lima tahun.
Pentahbisan Uruvela Kassapa
Tahun Pertama (588 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Migadaya (Taman Rusa), Isipatana, di dekat Baranasi.
 
Nandi Dan Gaya Kassapa Melihat Perlengkapan Petapa Yang Mengapung Di Sungai
Peristiwa utama:
Buddha membabarkan sutta pertama Dhammacakkappavattana Sutta, Anattalakkhana Sutta, dan Adittapariyaya Sutta; mengalihyakinkan kelima petapa (Pancavaggiya); mendirikan Persamuhan (Sangha) Bhikkhu dan Tiga Pernaungan (Tisarana); mengalihyakinkan Yasa dan kelima puluh empat sahabatnya; mengutus para misionari pertama; mengalihyakinkan ketiga puluh pangeran Bhaddavaggiya mengalihyakinkan ketiga Kassapa bersaudara beserta seribu orang pengikut mereka.

Tahun Kedua Sampai Keempat (587 - 585 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Veluvanarama (Vihara Hutan Bambu), di dekat Rajagaha.

Bertemu kembali dengan Raja Bimbisara
Peristiwa utama:
Buddha memenuhi janji kepada Raja Bimbisara; menerima Vihara Veluvana sebagai pemberian dana; menyabdakan Ovada Patimokkha; menunjuk Sariputta dan Moggallana sebagai siswa bhikkhu utama (agga savaka); mengunjungi Kapilavatthu; mempertunjukkan mukjizat ganda (yamaka patihariya); menahbiskan Pangeran Rahula dan Pangeran Nanda; mengukuhkan Raja Suddhodana, Ratu Mahapajapati Gotami, serta Yasodhara ke dalam arus kesucian; menahbiskan keenam pangeran Sakya; bertemu dengan Anathapindika; menerima Vihara Jetavana sebagai pemberian dana; bertemu dengan Raja Pasenadi dari Kosala, mendamaikan sengketa antara suku Sakya dan Koliya; membabarkan Mahasamaya Sutta.
 
Raja Suddhodana Mengundang Sang Buddha
Tahun Kelima (584 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Kutagarasala (Balairung Puncak), Mahavana, di dekat Vesali.

Peristiwa utama:
Wafatnya Raja Suddhodana; Sang Bhagava mengizinkan Ratu Mahapajapati Gotami bersama kelima ratus putri untuk menjadi bhikkhuni; mendirikan Sangha Bhikkhuni; membabarkan Dakkhinavibanga Sutta.
 Putri Yasodhara Bersujud pada Buddha
Tahun Keenam (583 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Mankulapabbata (Bukit Mankula), di dekat Kosambi.

Peristiwa utama:
Ratu Khema menjadi bhikkhuni dan kemudian ditunjuk sebagai salah satu dari kedua siswi bhikkhuni utama dengan Uppalavanna; Sang Bhagava melarang mempertunjukkan mukjizat demi keuntungan pribadi dan harga diri mereka sendiri; melakukan mukjizat ganda.

Tahun Ketujuh (582 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Surga Tavatimsa.

Peristiwa utama:
Buddha melakukan mukjizat; membabarkan Abhidhamma di Surga Tavatimsa; Sang Bhagava difitnah oleh Cincamanavika.

Tahun Kedelapan (581 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Bhesakalavana (Hutan Bhesakala), di dekat Surmsumaragiri, Distrik Bhagga.

Peristiwa utama:
Pangeran Bodhirajakumara mengundang Sang Bhagava ke Kokanada, istana barunya, untuk menerima dana makanan; Sang Bhagava membabarkan Punnovada Sutta; Punna mengunjungi Sunaparanta.

Tahun Kesembilan (580 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Ghositarãma (Wihar2 Ghosita), Kosambi.

Peristiwa utama:
Magandiya membalas dendam; sengketa para bhikkhu di Kosambi.

Tahun kesepuluh (579 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Hutan Rakkhita, di dekat Desa Parileyyaka.

Peristiwa utama:
Karena terjadi sengketa yang berkepanjangan di antara para bhikkhu di Kosambi, Sang Bhagava akhirnya menyendiri di Hutan Rakkhita, di dekat Desa Parileyyaka, ditemani oleh gajah Parileyyaka. Pada penghujung kediaman musim hujan tersebut Ananda, atas nama para warga Savatthi, mengundang Sang Bhagava untuk kembali ke Savatthi. Para bhikkhu Kosambi yang bersengketa tersebut kemudian memohon maaf kepada Sang Bhagava dan kemudian menyelesaikan sengketa mereka.

Tahun Kesebelas (578 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Dakkhinagiri, desa tempat tinggal Brahmin Ekanala.

Peristiwa utama:
Buddha mengalihyakinkan Brahmin Kasi Bharadvaja; menuju ke Kammasadamma di Negeri Kuru serta membabarkan Mahasatipatthana Sutta dan Mahanidana Sutta.

Tahun Kedua Belas (577 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Veranja.

Peristiwa utama:
Sang Bhagava memenuhi undangan seorang brahmin di Veranja untuk melewatkan kediaman musim hujan sana. Sayangnya, waktu itu terjadi bencana kelaparan di sana. Akibatnya, Sang Bhagava dan para siswa-Nya hanya memperoleh makanan mentah yang biasanya diberikan kepada kuda yang dipersembahkan oleh sekelompok pedagang kuda.

Tahun Ketiga Belas (576 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Caliyapabbata (Batu Cadas Caliya).

Peristiwa utama:
Setelah melewati kediaman musim hujan, Sang Bhagava menuju ke Bhaddiya untuk mengalihyakinkan sang hartawan Mendaka beserta istrinya yaitu Candapaduma, putranya yaitu Dhananjaya, menantunya yaitu Sumanadevi, pembantunya yaitu Punna, serta Visakha – cucu putrinya yang berumur tujuh tahun; mengalihyakinkan Siha, seorang panglima di Vesali yang sekaligus merupakan pengikut Nigantha Nataputta; membabarkan Maha Rahulovada Sutta.

 Putri Yasodhara bersama Pangeran Rahula
Tahun Keempat Belas (575 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Vihara Jetavana, Savatthi.
Pangeran Rahula Meminta Warisannya
Peristiwa utama:
Rahula, putra dari Pangeran Siddhattha yang kini menjadi Buddha, menerima penahbisan lanjut; Sang Bhagava membabarkan Cula Rahulovada Sutta, Vammika Sutta, dan Suciloma Sutta.

Tahun Kelima Belas (574 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Nigrodharama Nigrodha (Taman Nigrodha), Kapilavatthu.

Peristiwa utama:
Wafatnya Raja Suppabuddha, ayah-mertua Pangeran Siddhattha (Sang Buddha).

Tahun Keenam Belas (573 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Kota Alavi.

Peristiwa utama:
Sang Bhagava mengalihyakinkan Yaksa Alavaka.

Tahun Ketujuh Belas (572 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Veluvanarama, Kalandakanivapa (suaka alam tempat memberi makan tupai hitam), di dekat Rajagaha.

Peristiwa utama:
Buddha membabarkan Singalovada Sutta kepada perumah tangga muda Singalaka.

Tahun Kedelapan Belas Sampai Kesembilan Belas (571 - 570 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Caliyapabbata (Batu Cadas Caliya).

Peristiwa utama:
Sang Bhagava memberikan khotbah kepada seorang gadis penenun beserta ayahnya; Sang Bhagava mengalihyakinkan Kukkutamitta, sang pemburu dan keluarganya.

Tahun Kedua Puluh (569 S.M)
Tempat kediaman musint hujan:
Veluvanarama, di dekat Rajagaha.

Peristiwa utama:
Buddha menetapkan aturan-aturan Parajika; menunjuk Ananda sebagai pengiring tetap; pertemuan pertama dengan Jivaka; mengalihyakinkan Angulimala; Sang Bhagava dituduh atas pembunuhan Sundari; meluruskan pandangan salah Brahma Baka; menundukkan Nandopananda.

Tahun Kedua Puluh Satu Sampai Keempat Puluh Empat (568-545 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Vihara Jetavana dan Vihan Pubbarama, Savatthi.


Anathapindika Menutupi Taman Jeta Dengan Koin Emas
Peristiwa utama:
Kisah mengenai Raja Pukkusati; Sang Bhagava membabarkan Ambattha Sutta; penyerahan Vihara Pubbarama sebagai dana; wafatnya Raja Bimbisara; Bhikkhu Devadatta berusaha membunuh Sang Bhagava; menjinakkan Gajah Nalagiri; Bhikkhu Devadatta menciptakan perpecahan di dalam Sangha; meninggalnya Bhikkhu Devadatta; mengalihyakinkan Raja Ajatasattu; wafatnya Raja Pasenadi dari Kosala; membabarkan Sakka Pañha Sutta.

Tahun Keempat Puluh Lima (543 S.M)
Tempat kediaman musim hujan:
Beluvagamaka, di dekat Vesa1i.

Peristiwa utama:
Buddha mengalihyakinkan Upali, siswa utama Nigantha Nataputta; membabarkan ketujuh kondisi kesejahteraan bagi para penguasa dunia dan para bhikkhu; menyampaikan ceramah Cermin Dhamma; menerima hutan mangga dan Ambapali sebagai persembahan dana; wafatnya Sariputta dan Moggallana; membabarkan Empat Narasumber Utama (Mahapadesa); menyantap sukaramaddava; menerima petapa kelana Subhadda sebagai siswa terakhir; Sang Bhagava mencapai Mahaparinibbana.


KEGIATAN SEHARI-HARI SANG BHAGAVA
Selama empat puluh lima tahun Sang Bhagava membabarkan Dhamma dengan semangat. Dan setiap hari Ia melakukan kegiatan rutin-Nya tanpa mengenal jenuh.

Kegiatan harian yang dilakukan Sang Bhagava bisa dibagi ke dalam lima sesi, yaitu: (1) kegiatan pagi (purebhatta kicca), (2) kegiatan siang (pacchabhatta kicca), (3) kegiatan waktu jaga pertama malam (purimayama kicca), (4) kegiatan waktu jaga pertengahan malam (majjhimayama kicca), dan (5) kegiatan waktu jaga terakhir malam (pacchimayama kicca).

Kegiatan Pagi (sekitar pukul 06.00 – 12.00)
Sang Bhagava bangun pukul 04.00, kemudian setelah mandi Ia bermeditasi selama satu jam. Setelah itu pada pukul 05.00, Beliau memindai dunia dengan Mata Buddha-Nya untuk melihat siapa yang bisa Ia bantu. Pukul 06.00, Sang Bhagava menata jubah bawah, mengencangkan ikat pinggang, mengenakan jubah atas, membawa mangkuk dana-Nya, lalu pergi menuju ke desa terdekat untuk menerima dana makanan. Terkadang Sang Bhagava melakukan perjalanan untuk menuntun beberapa orang ke jalan yang benar dengan kebijaksanaan-Nya. Setelah menyelesaikan makan sebelum tengah hari, Sang Bhagava akan membabarkan khotbah singkat; Ia akan mengukuhkan sebagian pendengar dalam Tiga Pernaungan. Kadang Ia memberikan penahbisan bagi mereka yang ingin memasuki Persamuhan.

Kegiatan Siang (sekitar pukul 12.00 – 18.00)
Pada waktu ini, biasanya digunakan oleh Sang Bhagava untuk memberikan petunjuk kepada para bhikkhu dan untuk menjawab pertanyaan dari para bhikkhu. Setelah itu Sang Bhagava akan kembali ke bilik-Nya untuk beristirahat dan memindai seisi dunia untuk melihat siapa yang memerlukan pertolongan-Nya. Lalu, menjelang senja, Sang Bhagava menerima para penduduk kota dan desa setempat di aula pembabaran serta membabarkan khotbah kepada mereka. Saat Sang Bhagava membabarkan Dhamma, masing-masing pendengar, walaupun memiliki perangai yang berlainan, berpikir bahwa khotbah Sang Bhagava ditujukan secara khusus kepada dirinya. Demikianlah cara Sang Bhagava membabarkan Dhamma, yang sesuai dengan waktu dan keadaannya. Ajaran luhur dari Sang Bhagava terasa menarik, baik bagi khalayak ramai maupun kaum cendekia.

Kegiatan Waktu Jaga Pertama Malam (sekitar pukul 18.00 – 22.00)
Setelah para umat awam pulang, Sang Bhagava bangkit dari duduk-Nya pergi mandi. Setelah mandi, Sang Bhagava mengenakan jubah-Nya dengan baik dan berdiam sejenak seorang diri di bilik-Nya. Sementara itu, para bhikkhu akan datang dari tempat berdiamnya masing-masing dan berkmpul untuk memberikan penghormatan kepada Sang Bhagava. Kali ini, para bhikkhu bebas mendekati Sang Bhagava untuk menghilangkan keraguan mereka, ntuk meminta nasihat-Nya mengenai kepelikan Dhamma, untuk mendapatkan objek meditasi yang sesuai, dan untuk mendengarkan ajaran-Nya.

Kegiatan Waktu Jaga Pertengahan Malam (sekitar pukul 22.00 – 02.00)
Rentang waktu ini disediakan khusus bagi para makhluk surgawi seperti para dewa dan brahma dari sepuluh ribu tata dunia. Mereka mendekati Sang Bhagava untuk bertanya mengenai Dhamma yang selama ini tengah mereka pikirkan. Sang Bhagava melewatkan tengah malam itu sepenuhnya untuk menyelesaikan semua masalah dan kebingungan mereka.

Kegiatan Waktu Jaga Terakhir Malam (sekitar pukul 02.00 – 06.00)
Rentang waktu ini dipergunakan sepenuhnya untuk Sang Bhagava sendiri. Pukul 02.00 sampai 03.00, Sang Bhagava berjalan-jalan untk mengurangi penat tubuh-Nya yang menjadi kaku karena duduk sejak fajar. Pukul 03.00 sampai 04.00, dengan perhatian murni, Ia tidur di sisi kanan-Nya di dalam Bilik Harum-Nya. Pada pukul 04.00 sampai 05.00, Sang Bhagava bangkit dari tidur, duduk bersilang kaki dan bermeditasi menikmati Nibbana.

Demikianlah kegiatan harian yang dilakukan oleh Sang Bhagava, yang Ia lakukan sepanjang hidup-Nya.

Bersambung...
============================================
=====================================

Riwayat Buddha Gotama (Bagian 6) - Pemutaran Roda Dhamma.

 Baca bagian 5
Bertemu Tapussa dan Balika
PEMUTARAN RODA DHAMMA


Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, muncul dalam pikiran-Nya mengenai betapa dalamnya, sungguh halus Dhamma yang telah ditemukan-Nya. Ia mempertanyakan apakah manusia dapat memahaminya. Namun setelah dengan welas asih-Nya Ia melihat bahwa ada manusia yang dapat memahami Dhamma yang ditemukan-Nya, maka Sang Bhagava memiliki niat kuat untuk menyebarkan Dhamma. Kemudian Ia berkata: “Pintu menuju tiada kematian, Nibbana, sekarang telah tebuka. Akan Kubabarkan Dhamma kepada semua makhluk agar mereka yang memiliki keyakinan dan pendengaran yang baik bisa sama-sama memetik manfaatnya.”

Setelah memantapkan niat untuk mengajarkan Dhamma, Sang Bhagava lalu menimbang-nimbang kepada siapakah Ia perlu mengajarkan Dhamma untuk pertama kalinya, siapakah yang akan segera memahami Dhamma yang Ia temukan. Lalu Ia berpikir bahwa Alara Kalama, salah satu guru-Nya adalah orang yang bijaksana, terpelajar, dan berpikiran tajam, serta sedikit debu saja di matanya. Jika Ia mengajarkan Dhamma pertama kalinya kepadanya, Alara Kalama akan segera memahaminya. Namun kemudian Sang Bhagava mengurungkan niat-Nya setelah menyadari bahwa Alara Kalama telah meninggal tujuh hari yang lalu.

Bertemu Upakatakka
Kemudian, Sang Bhagava berpikir tentang guru-Nya yang lain, Uddaka Ramaputta, namun lagi-lagi Sang Bhagava mengurungkan niat-Nya setelah menyadari bahwa Uddaka Ramaputta telah meninggal kemarin malam.

Akhirnya Sang Bhagava memikirkan kelima petapa (pancavaggiya) yang melayani-Nya semasa Ia melakukan tapa berat di Hutan Uruvela. Dengan Mata Buddha-Nya yang murni melampaui kemampuan pandang manusia, Ia mengetahui bahwa mereka tengah berdiam di Taman Rusa di Isipatana, di Petirahan Para Waskita, dekat Baranasi. Demikianlah, setelah tinggal di Uruvela selama yang dikehendaki-Nya, Ia berjalan menuju Baranasi, yang berjarak delapan belas yojana.

LIMA SISWA PERTAMA
Pada senja yang sejuk, hari bulan purnama Asalha, 588 S.M, Sang Bhagava tiba di Migadaya, Taman Rusa di Isipatana. Kemudian, ketika kelima petapa melihat Sang Bhagava semakin dekat, mereka mulai memperhatikan bahwa Ia tidak tampak seperti Petapa Gotama yang dulu mereka layani di Hutan Uruvela selama enam tahun. Mereka melihat bahwa tubuh-Nya bercahaya cemerlang tiada banding, dan mereka juga mendapatkan kesan tenteram dan damai dari diri-Nya. Tak seorang pun di antara mereka yang sadar apa yang tengah terjadi karena mereka akhirnya tak kuasa menaati kesepakatan awal mereka yang menolak menghormati-Nya. Dengan segera mereka berdiri. Salah satu mendekati-Nya dan membawakan mangkuk serta jubah luar-Nya; yang lain menyiapkan tempat duduk; yang lainnya membawakan air, tatakan kaki, dan handuk untuk mencuci kaki-Nya. Dan setelah Sang Bhagava duduk, mereka memberikan hormat dan menyapa-Nya.
 
Pembabaran Dhamma pertama kepada Pancavagiya
Setelah itu, Sang Bhagava menyatakan bahwa diri-nya telah berhasil mengatasi kelahiran dan kematian dalam hidup ini dan akan mengajarkan Dhamma yang Ia temukan kepada mereka. Dan setelah kelima petapa itu dapat diyakinkan oleh Sang Bhagava, kelima petapa itu duduk diam, dan siap menerima petunjuk-Nya.

Sang Bhagava membabarkan kotbah pertama-Nya, Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Mengenai Pemutaran Roda Dhamma). Dalam khotbah ini, Sang Bhagava membabarkan kepada kelima petapa tersebut bahwa terdapat dua ekstrem – yaitu pemanjaan diri dan penyiksaan diri – yang harus dihindari oleh orang yang telah meninggalkan keduniawian. Ia membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Ia juga menunjukkan latihan Jalan Tengah, yang terdiri dan delapan faktor, yaitu Jalan Mulia Berfaktor Delapan.

Kelima petapa mendengarkan dengan saksama dan membuka hati mereka terhadap ajaran-Nya. Dan ketika khotbah itu tengah dibabarkan, pandangan tanpa noda dan murni terhadap Dhamma muncul dalam diri Kondañña. Ia memahami: “Apa pun yang muncul, pasti akan berlalu (yam kiñci samudayadhammam sabbam tam nirodhadhammam)”. Demikianlah, ia menembus Empat Kebenaran Mulia dan mencapai tataran kesucian pertama (Sotapatti) pada akhir pembabaran itu. Karena itu, ia juga dikenal sebagai Aññata Kondañña - Kondañña yang mengetahui. Lalu ia memohon penahbisan lanjut (upasampada) kepada Sang Bhagava. Untuk itu, Sang Bhagava menahbiskannya dengan berkata: “Mari, Bhikkhu! Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah hidup suci demi berakhirnya penderitaan secara penuh”. Dengan demikian, ia menjadi bhikkhu pertama dalam Buddha Sasana melalui penahbisan Ehi Bhikkhu Upasampadã, “Penahbisan Mari Bhikkhu”.

Setelah itu, tatkala ketiga petapa lainnya pergi menerima dana makanan, Sang Bhagava mengajarkan dan memberikan bimbingan Dhamma kepada Vappa dan Bhaddiya. Mereka akhirnya menjadi murni dan mencapai tataran kesucian Sotapatti. Dengan segera mereka memohon untuk ditahbiskan sebagai bhikkhu di bawah bimbingan¬Nya. Keesokan harinya, Mahanama dan Assaji juga menembus Dhamma dan menjadi Sotapanna. Tanpa jeda lagi mereka juga memohon penahbisan lanjut dari Sang Bhagava dan menjadi bhikkhu. Dengan demikian, kelima petapa itu menjadi lima siswa bhikkhu yang pertama, yang juga dikenal sebagai “Bhikkhu Pancavaggiya” Sejak saat itu, Persamuhan Bhikkhu (Sangha Bhikkhu) terbentuk.

Setelah kelima bhikkhu itu menjadi Sotapanna, pada hari kelima Sang Bhagava membabarkan Anattalakkhana Sutta (Khotbah Mengenai Tiadanya Inti Diri), yang dibabarkan sebagai tanya-jawab antara Sang Bhagava dan kelima siswa suci-Nya. Pada intinya, Ia menyatakan bahwa bentuk (rüpa), perasaan (vedanna), pencerapan (sañña), bentukan batin (sañkhara), dan kesadaran (viññana) adalah selalu berubah; dan apa yang selalu berubah tidaklah memuaskan (dukkha). Kemudian, kesemuanya ini yang selalu berubah dan tidak memuaskan, harus dilihat sebagaimana adanya dengan pengertian benar: “Ini bukan milikku (n’etam mama); ini bukan aku (n’eso’hamasmi); ini bukan diriku (na m’eso atta)”.
Mendengar kata-kata-Nya, kelima bhikkhu tersebut menjadi gembira dan bahagia. Dan setelah Sang Bhagava membabarkan khotbah mi, pikiran mereka terbebas dan kotoran batin, tanpa kemelekatan; mereka mencapai tataran Arahat.

PARA MISIONARI BUDDHIS PERTAMA
Setelah Sang Bhagava memberikan Pencerahan kepada kelima Petapa, Beliau bersama kelima siswa pertama-Nya itu berdiam di Taman Rusa di Isipatana untuk melewati musim hujan. Dan ketika Sang Bhagava sedang berjalan-jalan ditempat terbuka, Ia bertemu putra seorang saudagar kaya, bernama Yasa yang mengalami kegundahan batin terhadap kehidupannya dan pergi dari rumahnya. Yasa tidak lain adalah putra dari Sujata dari Senanigama, seorang wanita yang pernah mempersembahkan nasi susu kepada Bodhisatta sebelum Pencerahan-Nya.
 
Misionaris pertama
Setelah bertemu dengan Sang Bhagava, Yasa mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Bhagava dengan saksama. Dan ketika batinnya sudah siap, bisa menerima, bebas rintangan, bersemangat, dan yakin, Sang Bhagava membabarkan Empat Kebenaran Arya.

Ketika ayah Yasa mencari putranya yang telah pergi dari rumah, ia pun bertemu dengan Sang Bhagava. Kemudian Sang Bhagava juga mengajarkannya ajaran bertahap dan Empat Kebenaran Arya seperti yang telah dilakukan-Nya terhadap Yasa. Setelah pembabaran Dhamma selesai, ayah Yasa mencapai Sotapanna dan berlindung pada Tiratana (Buddha, Dhamma dan Sangha), dan Yasa pun mencapai tataran Arahat dan menjadi bhikkhu.

Selanjutnya berturut-turut, keluarga ibu Yasa dan mantan istri Yasa menembus Dhamma dan menjadi Sotapanna setelah Sang Bhagava mengajarkan Dhamma kepada mereka ketika ayah Yasa mengundang Sang Bhagava ke rumahnya.

Begitu pula kelima puluh empat teman Yasa yang empat diantaranya adalah sahabat karib Yasa yang bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati, mereka juga menerima pengajaran dari Sang Bhagava, menerima penahbisan menjadi bhikkhu, dan mencapai tataran Arahat.

Demikianlah, pada saat itu terdapat enam puluh satu Arahat di dunia, yaitu, Buddha, Bhikkhu Pancavaggiya, Bhikkhu Yasa, dan kelima puluh empat sahabat Yasa.
 
Bertemu Yasa
Pada saat berakhirnya tiga bulan masa kediaman musim hujan (vassana), Sang Bhagava telah mencerahkan enam puluh tiga orang. Di antara mereka, enam puluh orang mencapai tataran Arahat dan memasuki Persamuhan Bhikkhu, sementara yang lainnya - ayah, ibu, dan mantan istri Yasa menjadi Sotapanna dan terkukuhkan sebagai siswa awam sampai akhir hayat mereka. Kemudian, Sang Bhagava bermaksud menyebarkan Dhamma kepada semua makhluk di alam semesta, tanpa memandang apakah mereka adalah dewa ataupun manusia, tanpa memandang apakah mereka berkasta tinggi, rendah, atau paria; tanpa memandang apakah mereka raja ataupun pelayan, kaya ataupun miskin, cantik ataupun buruk, sehat ataupun sakit, patuh ataupun tidak patuh pada hukum.

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada keenam puluh bhikkhu Arahant tersebut: “Para Bhikkhu, Saya telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Kalian juga telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Pergilah, para Bhikkhu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas dasar welas asih kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia (caratha, bhikkhave, carikam bahujanahitaya bahujanasukhaya lokanukampaya atthtaya hitaya sukhaya devamanussanam). Janganlah pergi berdua dalam satu jalan! Para Bhikkhu, babarkanlah Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, dalam makna maupun isinya. Serukanlah hidup suci, yang sungguh sempurna dan murni. Ada makhluk dengan sedikit debu di mata yang akan tersesat karena tidak mendengarkan Dhamma. Ada mereka yang mampu memahami Dhamma. Para Bhikkhu, Saya sendiri akan pergi ke Uruvela di Senanigama untuk membabarkan Dhamma.”


Demikianlah, Yang Terberkahi mengutus keenam puluh siswa¬Nya yang telah tercerahkan untuk mengembara dan satu tempat ke tempat lain. Ini menandakan karya misionari pertama dalam sejarah umat manusia. Mereka menyebarluaskan Dhamma yang luhur atas dasar welas asih terhadap makhluk lain dan tanpa mengharapkan pamrih apa pun. Mereka membahagiakan orang dengan mengajarkan moralitas, memberikan bimbingan meditasi, dan menunjukkan manfaat hidup suci.
==========================================

Agenda Tahun 2019

1. Perpusnas Expo IGI 2019, Jakarta 19-20 Septermber 2019; 2. Workshop Nasional II Sagusavi Tahun 2019, Tangerang Banten, 21 September 2019.

52 Terbaik PNS Inspiratif 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018

Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018
Bersama Bupati Kendal Ibu dr. Mirna Annisa, M.Si. Menerima Anugerah Bupati Kendal Award 2018 Kategori Pegiat Pendidikan

Translate

Instagram

My Facebook

Post Popular

Buku Karya Kang Widi: Pengembangan Potensi Diri Menurut Agama Buddha

Cover Depan Setiap individu memiliki kemampuan atau potensi diri untuk di kembangkan. Demikian pula potensi diri dalam hal spiritual...

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.