- Mari Terus Berkarya, Berkreasi dan Berinovasi -

Materi Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti BAB I - Agama dan Kerukunan

Sumber: photos-g.ak.fbcdn.netGambar 1.8 Kedamaian dan kebahagiaan
C. Agama dan Kerukunan
Manusia hidup dalam keberagaman dan kemajemukan baik itu dalam ras, suku, bahasa, adat istiadat juga kemajemukan agama. Kemajemukan ini yang menciptakan anekaragam budaya dan aspirasi, karenanya harus dipelihara untuk menjaga keindahannya. Kemajemukan agama juga dimiliki Bangsa Indonesia. Terdapat enam agama yang diakui oleh negara, dengan masing-masing agama memiliki kemajemukan sekte. Aneka ragam agama beserta sektenya tersebut, apabila tidak dijaga kemajemukannya akan menghilangkan keindahan dan ciri khas Bangsa Indonesia.

Sumber: Dok. KemdikbudGambar 1.9 Kerukunan antartokoh beragama
Tugas Individu
Amatilah Gambar 1.8 dan Gambar 1.9, kemudian jelaskan mengapa kita harus memiliki kerukunan baik kepada sesama agama dan kepada orang lain yang berbeda agama! Sebagai insan Pancasila dan orang yang beragama, tentu kita dapat menunjukkan dan menerapkan kerukunan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Agama dan kerukunan memberikan kedamaian yang dapat mendorong semua orang untuk memiliki kehidupan mulia. Berbuat baik dan benar dengan saling menghormati, serta menghargai keyakinan orang lain itulah yang disebut dengan kerukunan. 

Perilaku masyarakat yang mencerminkan kerukunan dalam kehidupan masyarakat di antaranya adalah kerukunan antarumat beragama dan kerukunan intern umat beragama. Perilaku yang mencerminkan kerukunan dan yang bertentangan dengan kerukunan tentunya sudah kamu pahami. Hal yang perlu kamu lakukan adalah senantiasa mewujudkan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. 

Tuliskan apa yang dilakukan seseorang ketika orang lain merayakan hari raya atau sedang beribadah!

Tuliskan contoh perbuatan yang mencerminkan kerukunan antarumat beragama dan intern umat beragama!
.............................................................................................................................................. ..............................................................................................................................................

Tuliskan contoh perbuatan yang tidak mencerminkan kerukunan antarumat beragama dan intern umat beragama!
..............................................................................................................................................
..............................................................................................................................................

Menganut salah satu agama sudah diwajibkan bagi warga negara Indonesia karena Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Enam agama yang secara resmi diakui oleh negara, masing-masing memiliki perbedaan ciri, karakter, ajaran, bahkan berbeda dalam menyebarkan paham ajaran mereka. Masing-masing agama yang diakui di Indonesia ini terpecah-pecah menjadi sekte-sekte lagi yang memiliki paham yang berbeda-beda juga.

Agama Buddha yang awalnya hanya satu kemudian terpecah-pecah menjadi banyak sekte yang pada masa setelah Buddha Parinibbana, agama Buddha di India terpecah menjadi 18 sekte. Pada masa sekarang sekte utama agama Buddha di dunia terdiri dari 3 yaitu Mahayana, Theravada, dan Vajrayana. Masing-masing sekte ini juga terpecah lagi menjadi sub-sub sekte, seperti dalam Mahayana terdapat sekte Pure Land (Tanah Suci), sekte Tzu Chi, dan lainnya. Adapun subsekte Theravada di Thailand yaitu Mahanikaya dan Dhammayuttika Nikaya. Kemajemukan sekte dan subsekte agama Buddha ini juga mempengaruhi agama Buddha di Indonesia yang perlu disikapi dengan bijaksana. Banyaknya agama yang diakui di Indonesia dan banyaknya sekte yang ada pada masing-masing agama juga banyaknya sekte dan subsekte dalam agama Buddha membentuk sikap penganutnya dalam keberagamaan. Sikap-sikap tersebut di antaranya disebut dengan pluralisme dan paralelisme, inklusivisme, eksklusivisme, serta ada yang menyebutkan eklektisisme, dan universalisme. Selain lima paham tersebut terdapat sikap toleransi dalam keberagamaan. 

Masing-masing sikap keberagamaan ini akan dijelaskan pada pembahasan di bawah ini:
1. Pluralisme dan Paralelisme
Kemajemukan dalam berbagai bidang kehidupan di dunia, juga di masyarakat Indonesia melahirkan paham pluralisme atau disebut juga paralelisme. Kata pluralisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa) diartikan sebagai keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya). Pluralisme juga diartikan sebagai sikap saling menghormati dan toleransi antara satu dengan lainnya sehingga tercipta kedamaian, tanpa konflik dan permusuhan. Paham ini berpandangan bahwa secara teologis, pluralitas agama merupakan suatu realitas. Perilaku seseorang yang menunjukkan pluralisme di masyarakat, antara lain adalah membantu sesama di lingkungan tanpa membedakan.

Tuliskan contoh perbuatan yang mencerminkan pluralisme di masyarakat!
..............................................................................................................................................
..............................................................................................................................................

Tuliskan contoh perbuatan yang tidak mencerminkan pluralisme di lingkungan masyarakat.
..............................................................................................................................................
..............................................................................................................................................

Paralelisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa) diartikan sebagai hal sejajar; kesejajaran; kemiripan. Pendapat lain menyatakan bahwa paralelisme dapat terekspresi dalam macam-macam rumusan misalnya: ”Agamaagama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama”; ”Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenarankebenaran yang sama sah”; atau setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran.” Pada intinya pengertian pluralisme dengan paralelisme hampir sama.

2. Inklusivisme
Paham ini berbeda dengan paham pluralisme, karena dalam paham inklusivisme tidak menyamakan paham ajaran, tetapi menerima kebenaran agama sendiri tanpa menolak adanya kebenaran dari agama lainnya. Sama halnya dalam agama Buddha bahwa setiap umat Buddha hendaknya menyadari bahwa dalam agama Buddha tidak hanya terdapat sekte Theravada, Mahayana, atau Vajrayana, tetapi ketiga-tiganya ada. Umat Buddha harus menerima bahwa ada sekte atau sub sekte di luar sekte yang mereka anut, yang juga mengajarkan ajaran Buddha untuk menuju kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbana.

3. Eksklusivisme
Bagi seorang eksklusivist, untuk bertemu pada kebenaran, tidak ada jalan lain selain membuang agama-agama lain, merangkul agama lain itu untuk masuk ke lembaga tempat ibadahnya. Orang yang menganut paham ini, tidak memiliki toleransi beragama maupun menghargai dan menghormati agama lain. Sikap orang dan kelompok masyarakat seperti inilah yang mengancam kemajemukan, mengancam perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, paham ini dapat menimbulkan peperangan dan konflik bagi negara yang majemuk. Jika paham ini diterapkan di Negara Indonesia, maka negara ini akan hancur. Paham eksklusivisme ini juga tidak dapat diterapkan dalam agama Buddha yang memiliki banyak sekte dan sub-sekte. Jika ada sekelompok umat Buddha yang bersikeras menerapkan paham ini, maka agama Buddha akan habis. Agama Buddha di Indonesia merupakan agama minoritas karena itu paham eksklusivisme ini harus dilenyapkan baik dalam hubungannya dengan intern umat Buddha maupun antarumat agama lainnya.

4. Eklektisisme
Jika sikap dan paham eklektisisme ini diterapkan dalam keberagamaan agama, dapat menimbulkan kesalahan dalam penerapan ajaran agama. Ciri khas dari agama tersebut akan kabur dan menimbulkan pendangkalan keberagamaan agama. Jika sikap ini diterapkan dalam kemajemukan sekte agama Buddha juga akan menimbulkan pendangkalan keberagaman sekte agama Buddha, meskipun sesungguhnya keberagaman sekte agama Buddha menimbulkan masalah.

5. Universalisme
Berdasarkan sejarah, universalisme dalam hubungannya dengan agama Buddha, menganggap bahwa semua manusia pada akhirnya akan mendapatkan karma baik atau buruk sesuai dengan perbuatannya. Paham ini juga diartikan sebagai paham yang tidak mengabaikan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama ada untuk manusia. Faham universalisme menyatakan bahwa meskipun agama berbeda-beda tetapi pada prinsipnya penganut akan menikmati hidup sesuai dengan kebajikan atau perbuatan. Adapun dalam konteks pemahaman semua agama dapat diartikan bahwa meskipun agama berbeda-beda tetapi pada prinsipnya manusia akan diselamatkan. Dalam pemahaman Buddhis, diartikan bahwa meskipun agama berbeda-beda pada prinsipnya semua agama memiliki tujuan yang sama yaitu kebahagiaan yang bersifat universal.

6. Toleransi
Toleransi didefinisikan sebagai perilaku yang bersahabat dan adil terhadap pendapat dan praktik, atau terhadap orang yang memegang atau mempraktikkannya. Transportasi dan komunikasi modern telah membawa kita semua menuju lingkup kedekatan kepada orang-orang yang berbeda dan gagasan yang berbeda. Kita memiliki kebutuhan yang lebih besar pada toleransi. Buddha telah memberikan teladan sikap toleran ketika beliau menghadapi kemajemukan kepercayaan pada masa kehidupan beliau. Tokoh lain yang menunjukkan sikap toleransi adalah Raja Ashoka dalam Prasasti Batu Kalinga No. XXII dengan mengatakan:

”Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama lain. Sebaliknya agama lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita sendiri berkembang, selain menguntungkan pula agama lain. Jika kita berbuat agama sebaliknya kita akan merugikan agama kita sendiri, di samping merugikan agama orang lain. Oleh karena itu barang siapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain semata-mata terdorong rasa bakti kepada agamanya sendiri dan dengan pikiran bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri, justru ia akan merugikan agamanya sendiri. Karena itu kerukunan dianjurkan dengan pengertian biarlah semua orang mendengar dan bersedia mendengar ajaran yang dianut orang lain”.

Ashoka telah menunjukkan bahwa penghormatan terhadap agama sendiri bukanlah berarti dengan cara mencela agama orang lain. Justru menghormati agama orang lain sampai batas-batas tertentu dengan dasar tertentu merupakan suatu penghormatan terhadap agama sendiri. Demikian juga penghormatan terhadap sekte atau sub-sekte sendiri bukan berarti dengan mencela atau merendahkan sekte orang lain. Akan tetapi, dengan menghargai sekte orang lain maka akan menghargai sekte sendiri dan sekte sendiri akan dihargai oleh sekte lain.

Sumber : en.wikipedia.org/wiki/pilars_of_ashokaGambar 1.10 Pilar Ashoka

Gambar 1.11 Penyebaran Kerajaan Ashoka

Penanaman Nilai
Renungkan apabila keharmonisan dan kedamaian masyarakat begitu indah. Kerukunan, toleransi menjadikan watak anak bangsa, sungguh indah bangsa ini, Kerukunan menjadi model bangsa yang pluralistik.

Refleks
Setelah mempelajari dan menganalisis agama bagi kehidupan, manfaat apa saja yang kalian dapatkan?

Rangkuman
  1. Agama bukanlah sekedar sikap seseorang terhadap dunia fisik (duniawi) tetapi juga termasuk dunia spiritual (kesucian, kemuliaan, cinta kasih).
  2. Fungsi agama bagi manusia adalah sebagai sumber spiritual, pembimbing rohani manusia, pedoman dan sumber moral, serta sumber informasi masalah metafisika.
  3. Menghormati agama orang lain sampai batas-batas tertentu dengan dasar tertentu merupakan suatu penghormatan terhadap agama sendiri.

Penilaian Afektif
Bacalah pernyataan di bawah ini, kemudian isilah kolom kegiatan, alasan, dan konsekuensi pada Tabel 1.2. Jawablah sesuai dengan sikap dan perilakumu. 
Kolom Kegiatan : Berisi rutinitas kegiatan (selalu, sering, jarang, atau tidak pernah). 
Kolom Alasan : Berisi alasan mengapa rutinitas kegiatan tersebut kamu lakukan. 
Kolom Konsekuensi : Berisi bentuk konsekuensi jawabanmu.

Tabel 1.2 Penilaian Afektif: Kegiatan, Alasan, dan Konsekuensi terhadap Pernyataan Sikap


Kecakapan Hidup
Setelah kalian menyimak wacana di atas, tulislah hal-hal yang telah kamu mengerti dan hal-hal yang belum kamu mengerti pada kolom berikut ini!






Materi Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti BAB I - Peranan Agama



Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar 1.4 Kekerasan masyarakat
B. Peranan Agama
Penanaman Nilai
Hari pertama sekolah, sejak malam Tono telah berangan bahwa esok hari pertama sekolah, tentu segala kebutuhan sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Tono berangkat ke sekolah, berkendaraan angkutan umum dengan riang dan sedikit bercanda dengan beberapa orang kawannya. Tono menikmati perjalanan menuju sekolah yang selama ini diinginkannya. Di tengah perjalanan, Tono melihat seorang pemuda sedang mabuk minuman keras. Tono mengamati dan membicarakan dengan kawan dalam perjalanan. Angkutan umum pun tetap berjalan dengan pelan sambil mencari dan menunggu penumpang. Salah seorang teman Tono, berkata, ”Aduh..…! hari ini hidupnya masih mabuk minuman keras. Mabuk itu kan merusak kesehatan. Mabuk itu kan melanggar hukum. Mabuk itu kan kehidupan tidak beragama”.

Setelah membaca cerita di atas, jawablah soal berikut.
  1. Apakah kamu juga termasuk anak yang sedang bersuka cita karena menjadi siswa SMA/SMK Jelaskan.
  2. Apakah teman Tono yang berkomentar, termasuk teman yang memahami peran agama bagi kehidupan? Jelaskan.
  3. Sebutkan upaya yang kamu lakukan untuk memahami peran agama bagi kehidupan.
Cerita dan jawaban atas pertanyaan pada Penanaman Nilai, menyangkut peran agama dalam kehidupan. Mengatasi masalah-masalah kehidupan manusia, dirumuskan agama sebagai suatu sistem kepercayaan dan praktik yang dapat diaplikasikan. Agama adalah hubungan praktis yang dirasakan dengan apa yang dipercayai sebagai makhluk atau wujud yang lebih tinggi daripada manusia. Kata agama di Indonesia lazim diartikan sebagai kata A dan Gama yang diartikan dengan tidak kacau. Akan tetapi kata Gama dalam bahasa Sanskerta artinya desa. Jadi, agama diartikan dengan tidak kacau kurang tepat jika dilihat dari asal-usul bahasa. Agama adalah sikap atau cara penyesuaian diri terhadap dunia yang mencakup acuan yang menunjukkan lingkungan lebih luas daripada lingkungan dunia fisik yang terikat ruang dan waktu, dalam hal ini yang dimaksud adalah dunia spiritual. Jadi, agama bukanlah sekadar sikap seseorang terhadap dunia fisik (duniawi), tetapi juga termasuk dunia spiritual (kesucian, kemuliaan, cinta kasih, dan lain-lain). 

Agama memiliki fungsi-fungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas. Artinya agama mampu menyatukan perbedaan melalui rasa solidaritas atau penghargaan yang tinggi terhadap agama orang lain. Fungsi-fungsi agama tersebut adalah; Transformatif, artinya agama mampu mengubah kepribadian dan perilaku manusia dari yang buruk menjadi baik. Kreatif, artinya agama mampu mendorong umatnya menjadi produktif baik untuk diri sendiri maupun lingkungannya. Sublimatif, artinya agama mampu menyucikan kehidupan manusia dari tiga akar kejahatan: keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Edukatif, artinya agama mampu mendidik masyarakat memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Penyelamat, artinya agama mampu menyelamatkan manusia dari penderitaan. Kedamaian, artinya agama mampu membuat masyarakat memiliki rasa damai dari kesalahan/dosa yang dibuatnya melalui tuntunannya. Kontrol sosial, artinya agama mampu memelihara nilai-nilai sosial masyarakat melalui norma-norma yang diajarkan agamanya.
Selanjutnya, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
  1. Apakah kalian mengerti peran agama dalam kehidupan?
  2. Apakah kamu mengeti apa itu agama?

Mudah-mudahan agama memiliki peran yang signifikan pada kehidupan manusia. Menurut Encyclopaedia of Buddhism, kata ”agama” berasal dari agam yang artinya ”datang” atau ”tiba”, maksudnya mendekat, menemui, sumber, doktrin dan pengetahuan tradisional, khususnya dipakai untuk menunjuk kepada kitab suci. Dalam Bahasa Sanskerta dan Bahasa Pali, yaitu dari akar kata gacc, yang artinya adalah pergi ke, menuju, atau datang, kepada suatu tujuan, yang dalam hal ini, yaitu untuk menemukan suatu kebenaran. Penjelasan makna kata ini adalah seperti berikut:
  1. Dari kehidupan tanpa arah, tanpa pedoman, datang mencari pegangan hidup yang benar, untuk menuju kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan yang tertinggi;
  2. Dari biasa melakukan perbuatan rendah di masa lalu, beralih menuju hakikat ketuhanan, yaitu melakukan perbuatan benar yang sesuai dengan hakikat ketuhanan tersebut sehingga bisa hidup sejahtera dan bahagia;
  3. Dari kehidupan tanpa mengetahui Hukum Kesunyataan (Hukum Kebenaran Mutlak), dari kegelapan batin, berusaha menemukan sampai mendapat atau sampai mengetahui dan mengerti suatu hukum kebenaran yang belum diketahui, yaitu hukum kesunyataan yang diajarkan oleh Buddha.

Ada pendapat yang menjelaskan bahwa kata agama mempunyai arti tidak kacau. Bila memang dapat diartikan demikian, kata agama ini bisa mempunyai makna menjalankan suatu peraturan kemoralan untuk menghindari kekacauan dalam hidup ini yang tujuannya adalah guna mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Namun demikian mengartikan kata ”agama” dengan cara demikian masih menjadi perdebatan, karena secara etimologis tidak ditemukan suatu kata ”gama” yang berarti ”kacau” meskipun disepakati bahwa ”a” artinya ”tidak” dalam bahasa Sanskerta. Timbulnya agama di dunia ini adalah untuk menghindari terjadinya kekacauan, pandangan hidup yang salah, dan sebagainya, yang terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda; guna mendapatkan suatu kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan tertinggi. Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya. Inilah alasan mengapa orang mau mencari jalan yang benar yang dapat membawa mereka kepada suatu tujuan, yaitu suatu kebahagiaan mutlak terbebas dari semua bentuk penderitaan. Semua agama di dunia ini muncul karena adanya alasan ini.

Sumber: Dok. Kemdikbud Gambar 1.4 Kekerasan masyarakat
Gambar 1.4 menunjukkan bahwa kehidupan manusia yang kacau tidak sesuai dengan norma agama sehingga jauh dari kedamaian dan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kedamaian tersebut semestinya dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia dengan mengaktualisasikan nilai-nilai agama. Buddha Dhamma yang mengajarkan Kebahagiaan Tertinggi (Nibbana) juga disebut sebagai agama. Oleh karena itu, agama Buddha lebih dikenal dengan nama Buddha Dhamma atau Buddha Sasana. Buddha Dhamma atau Buddha Sasana, yaitu ajaran Buddha sebagai pedoman untuk membebaskan diri dari penderitaan.

Sebagai jalan manusia untuk mencapai kebahagiaan duniawi yang sejalan dengan Buddha Dhamma, setelah meninggal dunia terlahir di surga, kemudian mencapai kebahagiaan akhir (Nibbana). Dengan demikian, agama Buddha juga termasuk salah satu agama yang ada di dunia. Dari definisi di atas, agama merupakan ajaran kepercayaan atau keyakinan beserta kebaktian, sebagai jalan manusia untuk mencapai kebahagiaan duniawi, dan agar setelah meninggal dunia terlahir di surga. 

Perubahan kepercayaan animisme dan dinamisme menjadi agama, membuat bermunculan agama-agama yang menawarkan ajaran-ajaran dengan banyak perbedaan meskipun pada intinya mengajarkan keselamatan serta kebahagiaan duniawi dan surgawi. Agama yang dianggap agama tertua dianut manusia berasal dari lembah Hindustan yang pada awalnya disebut dengan Brahmanisme, tetapi kemudian dikenal dengan nama Agama Hindu. Kemudian, muncullah agamaagama lain seperti Yudaisme; Buddhisme; Kristenitas; Islam; Sikhisme; juga kepercayaan- kepercayaan di antaranya: Konfusianisme; Taoisme; Zoroastrianisme; Shintoisme; dan kepercayaan Baha’i. Agama awal yang masuk ke Indonesia adalah Hindu dan Buddha, kemudian Islam, Kristen, yang kemungkinan juga masuk Konfusianisme dan Taoisme di sela-sela masuknya pengaruh agama-agama tersebut. Negara Indonesia adalah negara yang berasaskan Pancasila dan bukan negara agama. 

Berdasarkan sila pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, serta Pasal 29 Ayat 1 dan 2 UUD 1945 yang berbunyi:
  1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Negara mengizinkan dan melindungi penduduk untuk menganut salah satu agama yang diakui di Indonesia. Agama memuat ajaran kebajikan, baik dan salah, moral, etika, norma, tatanan hidup, aturan, latihan bahkan larangan yang semuanya mengarahkan agar manusia berperilaku baik. Ajaran yang terdapat dalam agama tersebut membuat agama memiliki fungsi besar bagi manusia terutama dalam hubungannya dengan Tuhan, serta manusia dan manusia atau masyarakat. Fungsi agama bagi manusia adalah sebagai sumber spiritual, pembimbing rohani manusia, pedoman dan sumber moral, serta sumber informasi masalah metafisika. Selain fungsi tersebut, agama juga memiliki peran dalam kehidupan manusia.

Peran agama bagi kehidupan manusia di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Membawa Perubahan terhadap Pribadi Manusia
Ajaran yang terdapat dalam agama diharapkan dapat membawa perubahan terhadap pribadi manusia, dan menjadi pagar pembatas agar manusia tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Perubahan pribadi manusia ini dimaksudkan ter-jadinya perubahan kebiasaan manusia yang tidak baik menjadi lebih baik. Selain itu, ajaran agama juga diharapkan mampu mendorong manusia melakukan kebajikan, memiliki cinta kasih, sikap rukun, dan tolong-menolong.
2. Memberikan Pendidikan (Edukasi)
Agama mampu memberikan pembinaan, pendidikan, dan pengajaran kepada manusia dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya spiritual maupun rohani. Hal ini dimaksudkan bahwa ajaran agama dijadikan pedoman bagi manusia dalam menghadapi kehidupan dengan bersikap bijaksana. Bidang kehidupan ini tidak hanya dalam kegiatan ritual, tetapi juga bidang kehidupan lainnya seperti pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain sebagainya.
3. Membawa Perbaikan Keadaan Masyarakat
Manusia dihadapkan pada permasalahan sosial yang sangat kompleks. Permasalahan ini mengakibatkan hilangnya rasa kemanusiaan, seperti ketidakpedulian, pelanggaran hukum, serta hilangnya sikap saling menyayangi. Kondisi ini membutuhkan pedoman dari agama untuk menyelesaikan permasalahan sosial dengan menciptakan keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
4. Menciptakan Persatuan dalam Masyarakat

Sumber: parpukari.blogspot.com Gambar 1.5 Keharmonisan tokoh agama
Amati Gambar 1.5. Kemudian, jawablah pertanyaan berikut:
  1. Apa pendapatmu tentang Gambar 1.5?
  2. Apakah hanya tokoh agama yang dapat menciptakan kerukunan?
  3. Apa sajakah peran agama dalam menciptakan kedamaian dan kebahagiaan?
  4. Bagaimana fungsi agama dalam mewujudkan kedamaian dan perdamaian?

Ajaran Buddha dapat lebih diaplikasikan dalam masyarakat Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang dibingkai dengan Bhinneka Tunggal Ika. Kerukunan
hidup umat beragama terbina bila setiap umat beragama mampu:
  1. Tidak memaksakan kehendak atau keyakinan kepada orang lain.
  2. Bekerjasama dan gotong royong untuk mengerjakan sesuatu untuk kepentingan bersama.
  3. Tidak membeda-bedakan antarumat dalam hal agama dan keyakinan yang dianutnya.
  4. Memberi kesempatan sepenuhnya kepada orang lain untuk menjalankan ibadahnya.
  5. Menghormati orang lain yang sedang menjalankan ibadahnya.
  6. Saling menghormati perayaan hari besar agama orang lain.

Agama Buddha lebih berperan aktif karena jelas agama sebagai sumber dan landasan etika, moral dan spiritual, memiliki peran sebagai berikut:
  1. Peran sebagai Komplemen: artinya agama merupakan salah satu unsur pokok dalam kehidupan untuk menetapkan arah, tujuan dan cara-cara menjalani kehidupan.
  2. Peran sebagai Motivator: artinya agama harus mampu memberi dorongan dan menggerakkan aktivitas serta perilaku manusia dalam meraih cita-citanya.
  3. Peran Kreatif: artinya agama harus dapat membuat orang bekerja dengan penuh daya cipta yang bermanfaat.
  4. Peran Integratif: artinya agama harus dapat mempersatukan perbedaan di dunia.
  5. Peran Sublimatif: artinya agama harus dapat membantu seseorang untuk mencapai kesucian lahir dan batin.
Peran agama semestinya bukan hanya menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat duniawi tetapi yang mengarah pada kesucian spiritual. Buddha menjelaskan bahwa terdapat 4 agama palsu sebagai berikut:
  1. Materialisme, yaitu agama yang tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian.
  2. Tidak percaya hukum sebab akibat. Ia berpendapat bahwa berbuat baik tidak ada pahalanya, dan sebaliknya ia mengajarkan etika tidak bermoral.
  3. Keselamatan dapat diperoleh secara ajaib. Misalnya asal percaya dan ikut agama, maka ia akan diselamatkan, tak peduli perbuatannya baik atau buruk.
  4. Mengajarkan bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sudah ditakar dan diatur oleh yang maha kuasa.
Penanaman Nilai
Bacalah pernyataan peristiwa pada Tabel 1.1. Kemudian, tuliskan pendapat dan alasan pendapatmu terhadap pernyataan peristiwa tersebut.

Tabel 1.1

Agama Buddha mengutamakan cinta kasih dalam penyebaran agamanya di dunia. Agama Buddha adalah satu-satunya agama yang tidak pernah perang atas nama agama. Agama Buddha berkembang dengan damai di seluruh dunia tanpa pertumpahan darah. Dengan demikian agama Buddha adalah agama yang konsisten dalam mewujudkan kedamaian di dunia sebagaimana tujuan utama setiap agama.

Sumber : Dok. KemdikbudGambar 1.6 Tujuan Pembabaran Dhamma


Amati Gambar 1.6. Kemudian, jawablah pertanyaan berikut.
  1. Apa pendapatmu tentang Gambar 1.6?
  2. Apakah hanya Siddharta yang menjadi Buddha?
  3. Apa peran Sidharta dalam menciptakan kedamaian dan kebahagiaan?
  4. Bagaimana baik buruk manusia ditentukan?
Konsep agama Buddha, antara lain:
  1. Semua orang dapat menjadi Buddha. Kebuddhaan bukan milik pribadi Siddharta Gotama, tetapi setiap orang dapat menjadi Buddha sama seperti Siddharta Gotama.
  2. Nibbana adalah tujuan utama. Nibbana berarti terbebas dari kondisi tiga akar kejahatan (lobha, dosa, moha). Nibbana tidak hanya dicapai setelah mati, Nibbana dapat dicapai didunia saat ini juga.
  3. Karma berarti perbuatan. Nasib manusia tidak diatur oleh makhluk yang maha kuasa, tetapi nasib manusia bergantung pada Karma yang diperbuatnya.
  4. Baik buruk manusia bukan karena ras, suku, agama, atau jabatan. Ajaran Buddha menolak perbedaan derajat dan martabat manusia berdasarkan kasta, ras, warna kulit, bangsa, maupun agama. Perbedaan di antara semua makhluk terjadi karena karma atau perbuatannya masing-masing.
  5. Anti kekerasan dan mengutamakan Metta. Ajaran Buddha mengajarkan untuk melindungi setiap bentuk kehidupan, menyingkirkan senjata, pantang melakukan berbagai bentuk kekerasan, dan membalas kebencian dengan cinta kasih.

Sumber: http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg
 - Gambar 1.7. Kekerasan pelajar


Amati Gambar 1.7. Kemudian, jawablah pertanyaan berikut.
  1. Apa pendapatmu tentang Gambar 1.7?
  2. Apakah hanya sekarang muncul kekerasan?
  3. Apa peran agama dalam mengatasi kekerasan?
  4. Bagaimana cara mengatasi kekerasan?

Materi Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti BAB I - Ajaran Buddha

Gambar 1.3.

A. Ajaran Buddha
Simaklah wacana berikut ini dengan saksama!
Agama bagi Kehidupan Anak-anak, kamu saat ini duduk di bangku SMA/SMK. Kamu hendaknya bersyukur dapat melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan menengah. Sebagai wujud rasa syukur, kamu dapat lebih rajin belajar dan senantiasa dapat mengembangkan diri sehingga menjadi Buddhis yang lebih baik.

Perhatikan Gambar 1.3. Dari gambar tersebut, apa yang kamu lihat?

Tentu kamu dapat melihat aktivitas kehidupan manusia yang dengan percaya dirinya melakukan perbuatan hidup yang tidak sejalan dengan norma hukum bahkan norma agama. Salah satu perilaku manusia menganggap hidup ini tidak perlu aturan agama karena dipandang agama tidak penting bagi kehidupan.

Buddha mengajarkan dengan jelas dan terdapat pada ”Pancasila Buddhis” ”Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadamsamadiyami” yang artinya aku bertekad akan melatih diri menghindari minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran. Sila ini jelas sekali peranannya untuk mengingatkan manusia agar hidup normal dan selaras dengan agama dan masyarakat. Selain bertentangan dengan agama dan norma masyarakat juga ancaman hukum negara sangat berat. Pada bab ini kamu akan belajar tentang arti penting agama bagi kehidupan. Kamu diharapkan mampu menganalisis pentingnya agama bagi kehidupan manusia karena dalam kehidupan sebagian manusia memandang agama tidak diperlukan lagi.


Kisi-kisi USBN Pendidikan Agama Buddha SMA-SMK Tahun 2018



Berikut ini kisi-kisi USBN Pendidikan Agama Buddha untuk jenjang SMA dan SMK:

  1. Kisi-kisi USBN PAB SMA-SMK Untuk KTSP 2006
  2. Kisi-kisi USBN PAB SMA_SMK Untuk KTSP 2013

Kisi-kisi USBN SMP 2018

Workshop Online Tahap 1 Kanal Sagusavi - Kesempatan Untuk Menjadi Tim Pelatih Nasional Kanal Sagusavi

 


Salam kreatif dan inovatif,
Salam Sejahtera untuk kita semua,
Salam Sagusavi,
Mohon dibaca dengan cermat, 
Sehubungan dengan banyaknya permintaan dan adanya sumbang saran dari berbagai pihak, maka Workshop Online Kanal Pelatihan SAGUSAVI akan dimajukan pelaksanaannya pada hari Minggu tanggal 21 januari 2018 mulai pukul 14.00 sampai selesai.

Workshop ONLINE Tahap 1 ini, Kanal SAGUSAVI membuka kesempatan kepada semua peserta yang lolos seleksi untuk menjadi Trainer/Pelatih dalam Tim Kanal Sagusavi dan masuk nominasi sebagai Pengurus Kanal Sagusavi.

Metode pembelajaran dalam workshop ini adalah sebagai berikut:
1. Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran secara onlie yang telah disediakan oleh tim Kanal Sagusavi. (Bagi yang sudah pernah mengisi, mohon dengan sangat untuk bisa mengisi ulang formulir pendaftaran ini)
2.  Peserta yang telah mengisi formulir pendaftaran akan dimasukkan dalam group Kelas SAGUSAVI.
3.  Peserta yang tidak mengisi formulir pendaftaran TIDAK BERHAK mendapatkan sertifikat/piagam pelatihan dari Kanal Sagusavi.
4.   Sertifikat/piagam pelatihan akan diberikan kepada peserta yang telah mengisi formulir pendaftaran dan mengikuti semua ketentuan pelatihan yang berlaku. (baca ketentuan ini secara khusus di bawah)
5.   Setiap peserta wajib mengirim semua bentuk tugas dari pelatihan kepada tim Kanal SAGUSAVI. Untuk tugas berupa file (word, pdf, powerpoint, mp3 dan lainnya yang kurang dari 10mb) dikirim ke email: sagusavi@igi.or.id, untuk file berupa video wajib di unggah di chanel youtube peserta dan melampirkan/mengirim link video yang telah diunggah ke emailsagusavi@igi.or.id
6.    Peserta dibagi menjadi 2 kategori, peserta biasa dan peserta calon trainer.
7.  Untuk calon trainer harus memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tim Kanal Sagusavi (baca ketentuan ini secara khusus di bawah).
8.    Sistem pembelajaran online sesi 1, dilakukan dengan cara sebagai berikut:
A.   Informasi pembelajaran disampaikan melalui group SAGUSAVI (WA dan Telegram)
B. Peserta wajib membaca modul yang dimuat dihttp://sagusavi.kangwidi.com dan atau menyimak video tutorial di Chanel Kanal Sagusavi.
C. Sesi mempelajari modul dimulai pada Hari Minggu, 21 Januari 2018 pukul 14.00 wib dan diakhiri pada hari Selasa, Tanggal 23 Januari 2018 pukul 06.00 wib
D. Semua Pertanyaan dari peserta wajib di tulis di kolom komentar di halaman Modul blog sagusavi.kangwidi.com mulai hari Selasa, 23 Januari 2018 pukul 07.00 wib sampai dengan hari Rabu, 24 Januari pukul 11.00 wib
E.  Semua pertanyaan akan dijawab pada Hari Rabu, tanggal 24 Januari 2018 mulai pukul 12.00 wib
F.  Pengiriman tugas 1, merumuskan ide cerita, dan menulis sinopsis selambat-lambatnya pada Hari Kamis 25 Januari 2018 pukul 24.00 wib
G. Pengiriman tugas 2, menulis skenario selambat-lambatnya pada hari Sabtu 27 Januari 2018 pukul 24.00 wib.
9. Workshop/pembelajaran sesi 2 akan dilaksanakan selambat-lambatnya setelah 1 minggu pengumpulan tugas 2.
10. Ketentuan khusus tentang sertifikat/piagam pelatihan bagi peserta yang telah mengisi formulir pendaftaran:
A. Wajib mengajukan sekurang-kurangnya 1 pertanyan dalam kolom komenter modul sagusavi di blog http://sagusavi.kangwidi.com
B.  Wajib mengirim semua tugas yang diberikan dari tim Kanal Sagusavi. Untuk tugas berupa file (word, pdf, powerpoint, mp3 dan lainnya yang kurang dari 10mb) dikirim ke email: sagusavi@igi.or.id, untuk file berupa video wajib di unggah di chanel youtube peserta dan melampirkan/mengirim link video yang telah diunggah ke email sagusavi@igi.or.id
C. Wajib mempunyai KTA IGI dan jika belum ada; dipersilahkan mendaftar dihttp://anggota.igi.or.id
11.    Ketentuan khusus Calon Trainer Kanal SAGUSAVI:
A.   Memenuhi ketentuan pada point nomor 10.
B. Wajib menguasai teknik editing audio (Minimal AudaCity atau AdobeAudition atau 1 software lainnya) dan editing video (Minimal Camtasia Studio atau VegasMovie Studio atau 1 Software lainnya)
C. Pernah melatih guru sekurang-kurangnya 10 guru, minimal lingkup MGMP/KKG.
D.   Berkomitmen untuk berkarya berupa Video Pembelajaran (Video Klip, Video Film Pendek atau Video Film Dokumenter) sekurang-kurangnya 1 video dalam 1 semester dan menggunggah di Chanel Youtub pribadi dan memasukkan di Playlist “Karya Peserta Kanal Sagusavi”.
E.    Berkomitmen untuk menularkan ilmu kepada semua guru di Indonesia.
F.    Berkomitmen mensosialisasikan IGI Kepada semua pihak.
12.    Hal-hal yang belum tercantum dalam ketentuan ini akan diinformasikan lebih lanjut melalui Group WA/Telegram Sagusavi dan Blog Sagusavi.


Demikian untuk diperhatikan.
Salam Sagusavi,
Founder Kanal Sagusavi


Wasekjen IGI Bidang Peningkatan Mutu Pendidikan


Keterangan:
Sertifikat dengan pola 30 jam yang akan diberikan kepada peserta pada tahap iniBELUM masuk pada Nomor Registrasi Nasional PKG IGI. Seritifat baru di tanda-tangani oleh Founder Kanal dan Mengetahui PP IGI. 

Pertanyaan terkait hal ini, silahkan Kunjungi Blog SAGUSAVI 

Agenda Tahun 2018

1. Tanggal 5 - 6 Januari Temu Pelatih Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI 2018. 2. Tanggal 22 April; Video Converenc Maluku Belajar 3. Tanggal 28 April; Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Bidang TIK - Tana Toraja Sulsel. 4. Tanggal 29 - 30 Juni 2018; Workshop Pengembangan Media Pembelajaran Dhammasekha Berbasis IT - Selat Panjang Kep. Mranti Kep. Riau. 5. Tanggal 8 - 10 Agustus; Workshop Juri Sippa Dhamma Samajja 2018 - Banten. 6. Tanggal 8 - 12 Oktober; Juri Sippa Dhamma Samajja 2018.

Translate

Instagram

My Facebook

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.